Sun. Oct 18th, 2026

Mengeja Fiksi Rupa: Menggambar sebagai Cara Membaca Arsip


Oleh Wayan Sujana Suklu –
Pengajar di Fakultas Seni Rupa ISI Bali

 

APA artinya sebuah performans jika tidak ditujukan untuk disaksikan secara langsung? Pertanyaan ini muncul ketika tindakan artistik tidak lagi berangkat dari kebutuhan untuk tampil di hadapan publik, melainkan dari keinginan untuk menjalani sebuah proses: membaca, menggambar, mengingat, dan mengarsipkan.

Dalam “Mengeja Fiksi Rupa” di Dicti Art Lab bulan April lalu, menggambar saya pahami bukan semata-mata sebagai upaya menghasilkan citra. Menggambar menjadi cara membaca ulang pengetahuan visual yang tersimpan dalam buku dan arsip. Tangan bergerak di antara ingatan, pengamatan, dan tafsir. Setiap garis bukan hanya bentuk, tetapi juga jejak dari suatu perjumpaan—antara tubuh, bahan, ruang, dan pengetahuan yang belum selesai dipahami.

Saya menyebutnya “performans no-audiens” bukan untuk meniadakan publik atau menyatakan bahwa seni harus berlangsung secara tertutup. Istilah itu menunjuk pada absennya penonton yang hadir langsung di ruang kerja. Ketika tindakan berlangsung, perhatian tidak diarahkan kepada respons penonton. Saya ingin memberi tempat pada proses itu sendiri: pada waktu yang dibutuhkan untuk mengamati, mengeja, menggambar, berhenti, lalu membaca kembali apa yang telah dibuat.

Di sini, ruang laboratorium pengetahuan menjadi penting. Laboratorium bukan sekadar tempat untuk menyimpan bahan atau menghasilkan kesimpulan. Ia juga dapat menjadi ruang untuk mencoba, mengulang, dan membiarkan pertanyaan tetap terbuka. Buku, arsip, tubuh, dan gambar berada dalam hubungan yang saling memengaruhi. Arsip tidak hadir sebagai kumpulan dokumen yang beku. Ia menjadi materi hidup ketika disentuh, dibaca ulang, dan dibawa ke dalam tindakan artistik.

Namun, jika performans ini disiarkan melalui media sosial, bukankah ia kembali menjadi tontonan? Pertanyaan itu sah. Siaran memang menghadirkan audiens, meskipun mereka tidak berada di dalam ruang yang sama. Kamera dan layar menciptakan jarak, sekaligus membentuk cara lain untuk menyaksikan. Karena itu, “no-audiens” di sini bukan berarti tidak ada orang yang mungkin melihatnya. Istilah ini lebih tepat dipahami sebagai ketiadaan audiens langsung yang menjadi tujuan tindakan pada saat ia berlangsung.

Perbedaan tersebut tidak menghapus ketegangan antara praktik dan publikasi. Siaran dapat menjadi jendela bagi orang lain untuk mendekati proses, tetapi ia juga dapat membingkai proses sebagai pertunjukan. Yang tampak di layar tidak pernah sepenuhnya sama dengan pengalaman berada di ruang itu: waktu yang berlalu, perhatian yang berubah, keheningan, dan hubungan tubuh dengan benda-benda di sekitarnya. Yang dibagikan adalah sebagian dari peristiwa, bukan keseluruhannya.

Bagi saya, ketegangan ini justru perlu dipertahankan. Ia mengingatkan kita bahwa dokumentasi bukan cermin netral. Ketika sebuah tindakan direkam atau disiarkan, ia memasuki bentuk peredaran yang berbeda. Jejaknya dapat menjangkau publik, tetapi tidak menggantikan pengalaman yang terjadi. Gambar, catatan, atau rekaman menjadi pintu masuk untuk membaca karya, sekaligus pengingat bahwa selalu ada bagian yang tertinggal di luar bingkai.

Di tengah kebiasaan mengubah banyak hal menjadi konten yang segera dilihat dan dinilai, performans no-audiens menawarkan kemungkinan untuk menempatkan proses sebelum tampil. Bukan sebagai penolakan terhadap publik, melainkan sebagai ruang agar kerja artistik tidak sepenuhnya ditentukan oleh kebutuhan untuk menarik perhatian. Ada pengalaman yang bermakna meskipun tidak disaksikan secara langsung; ada pula karya yang baru dapat dibaca melalui jejaknya.

“Mengeja Fiksi Rupa” berangkat dari keyakinan bahwa membaca arsip bukan hanya menemukan kembali apa yang telah ada. Membaca juga berarti membuka kemungkinan baru: menyusun ulang hubungan, mengakui celah, dan membiarkan imajinasi bekerja. Dalam proses itu, menggambar menjadi tindakan yang sekaligus intim dan terbuka—intim karena berangkat dari perjumpaan tubuh dengan arsip, terbuka karena jejaknya dapat ditafsirkan kembali oleh orang lain.

Mungkin pada akhirnya pertanyaannya bukan apakah performans ini benar-benar tanpa audiens. Pertanyaannya adalah bagaimana kita memahami hubungan antara tindakan, saksi, dokumentasi, dan publik. Dengan menunda kehadiran penonton langsung, saya ingin memberi perhatian pada sesuatu yang sering luput: bahwa seni bukan hanya apa yang dipertontonkan, tetapi juga proses yang dijalani, pengetahuan yang diaktifkan, dan kemungkinan yang belum selesai dibaca. [*]

TENTANG WAYAN SUJANA SUKLU
Lahir di Klungkung, 6 Februari 1967, dan bermukim di Banjarangkan, Klungkung, Bali. Ia merupakan dosen Seni Rupa di FSRD ISI Denpasar.

Sebagai perupa kontemporer, Sujana Suklu aktif berpameran tunggal dan kelompok di berbagai ruang seni nasional dan internasional. Pameran tunggal pentingnya antara lain Body and Time; Nawa Sena Conscience (TonyRaka Gallery, 2025), Monument of Trajectory (Komaneka Gallery, 2021), PANJI, Between Body and Shadow (IMF International Art Event, 2018), serta Wings and Time (Komaneka Fine Art Gallery, 2016).

Ia terlibat dalam berbagai proyek dan pameran seni berskala besar seperti Art Jakarta, Art Moment Bali, ARMA Ubud, Bentara Budaya, National Gallery Jakarta, Museum Pasifika, hingga pameran internasional virtual. Selain berkarya, ia juga aktif sebagai kurator sejak 2019, menangani sejumlah pameran seni rupa kontemporer.

Prestasinya mencakup penghargaan The Best 10 Philip Morris Asian Art Award (2003), pemenang Indofood Art Awards (2003), serta LIBAF Senggigi Lombok (2013). Di bidang tata artistik, ia kerap dipercaya sebagai scenographer untuk pameran dan peristiwa seni penting di Bali.

By Bekraf

Related Post

Redaktur Tamu