Sat. Feb 21st, 2026

Magic in The Waves: Ombak, Ingatan, dan Pantai yang Dipertaruhkan

Sore itu suasana Warung Kubukopi sedikit berubah wajah. Ia tetap warung sederhana dengan dinding semen mentah dan panel bambu putih. Ia tetap warung dengan atap seng dan lampu gantung yang menghadirkan kesan setengah industrial, setengah rumah. Namun lima belas foto yang dipajang rapi di sepanjang dinding membuat tempat itu terasa berbeda.

Orang-orang datang tanpa protokol resmi. Mereka saling menyapa, tertawa, berpelukan. Ada yang berdiri lama membaca teks kuratorial, ada yang duduk santai berbincang di sudut ruangan. Di dekat pintu masuk, meja panjang menyajikan jagung rebus yang masih hangat, ubi rebus, edamame, nasi bungkus, serta termos besar berisi kopi dan teh. Para tamu menuang minuman mereka sendiri. Tidak ada kemewahan. Tidak ada jarak.

Itulah suasana pembukaan pameran foto bertajuk Magic in The Waves, karya Bagus Made Irawan—yang lebih dikenal sebagai Piping—pada Rabu (18/02/2026) sore. Sejak awal terasa jelas bahwa ini bukan sekadar pameran fotografi. Ini adalah peristiwa kultural: pertemuan kembali antara laut, memori, dan komunitas. Pameran ini seolah ingin menegaskan bahwa ia lahir dari komunitas, bukan dari institusi besar. Ia tumbuh dari kebersamaan, bukan dari protokol.

Ombak, Ruang Sunyi yang Semakin Langka
Salah satu foto paling sunyi dalam pameran ini memperlihatkan seorang surfer berjalan sendirian di tepi pantai saat senja. Siluet tubuhnya tampak kecil di antara garis laut dan langit biru keabu-abuan. Papan selancar dibawanya seperti teman lama. Tidak ada keramaian. Tidak ada musik. Tidak ada barisan kursi pantai. Foto itu sederhana, tetapi terasa seperti potongan waktu yang hampir hilang dari pantai Bali hari ini.

Kini banyak pantai di Bali identik dengan kepadatan wisatawan, beach club, lampu neon, dan dentuman musik elektronik. Garis pantai menjadi ruang komersial yang terus dipadatkan. Kesunyian menjadi barang mahal.

Dalam foto itu, ombak bukan tontonan. Ia adalah ruang pertemuan antara manusia dan alam. Sebuah percakapan yang hening. Barangkali itulah yang paling dirindukan.

Dalam karya berjudul Akrobatik, seorang surfer terbalik di udara. Tubuhnya melengkung mengikuti lengkung ombak. Di bawahnya, air pecah keras. Tidak ada jaring pengaman. Tidak ada struktur buatan manusia. Hanya tubuh, air, dan gravitasi. Keindahan dalam foto itu lahir dari ketegangan. Ia mengingatkan bahwa laut tidak pernah sepenuhnya jinak.

Hari ini, ketegangan lain hadir di pantai Bali: abrasi yang menggerus pasir, sampah kiriman yang menumpuk setiap musim barat, mikroplastik yang mengendap di laut, serta pembangunan yang kian mendekati garis air. Risiko bukan lagi hanya persoalan individu melawan ombak, tetapi persoalan kolektif melawan kerusakan.

Tubuh yang melayang di udara itu terasa seperti metafora: betapa tipis jarak antara keseimbangan dan jatuh. Pantai Bali pun berada dalam jarak tipis itu.

Momen yang Tak Terulang
Foto bertajuk One Moment juga menampilkan sosok yang melayang di udara dalam cahaya senja jingga-ungu. Di bawahnya, seorang fotografer bersiap menangkap detik tersebut.

Judulnya jujur: satu momen. Mengaskan bahwa ombak datang dan pergi. Tubuh melayang hanya sepersekian detik. Jika tidak direkam, ia hilang. Pantai pun demikian. Garis pasir yang hari ini kita kenal bisa berubah esok hari. Spot yang dulu sunyi bisa menjadi ramai. Ruang publik dapat menyempit tanpa terasa.

Fotografi dalam pameran ini bekerja sebagai pengingat: ada masa ketika pantai masih terasa intim, ketika relasi manusia dan laut belum sepenuhnya ditengahi industri. Arsip menjadi penting bukan untuk nostalgia, melainkan untuk mengukur jarak perubahan.

Hari ini pantai Bali berada di persimpangan. Di satu sisi, ia menjadi mesin ekonomi. Pariwisata pesisir menyerap tenaga kerja, menggerakkan bisnis, dan menopang banyak keluarga. Di sisi lain, tekanan terhadap ekologi semakin nyata. Abrasi, overdevelopment, intrusi air laut, hingga konflik akses publik menjadi isu yang tak bisa diabaikan. Ombak yang dalam foto-foto itu tampak agung dan murni kini sering berbagi ruang dengan limbah dan kepadatan.

Pameran ini tidak menawarkan solusi teknis. Namun ia mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: apakah kita masih melihat pantai sebagai ruang hidup, atau hanya sebagai komoditas?

Foto siluet di senja, tubuh yang melayang, dan momen yang ditangkap dalam sepersekian detik mengajak kita kembali pada relasi awal: manusia dan laut sebagai mitra, bukan sebagai objek eksploitasi.

Suasana pembukaan pameran memperlihatkan bahwa nilai itu tidak berhenti di dinding. Jagung rebus, ubi, kopi yang dituangkan sendiri, dan percakapan yang cair mencerminkan etos kebersahajaan.

Di tengah citra glamor pantai Bali hari ini, pameran ini justru menegaskan sisi lain: bahwa kultur pesisir dibangun oleh komunitas kecil yang saling mengenal, saling menjaga, dan berbagi ruang. Keberlanjutan pantai tidak hanya ditentukan oleh kebijakan, tetapi juga oleh komunitas yang merasa memiliki.

Bagus Made Irawan sendiri adalah seorang surfer yang telah hidup bersama ombak lebih dari tiga dekade. Ia bukan fotografer yang datang sebagai turis visual. Ia bagian dari kultur yang ia dokumentasikan.

Melalui majalah Magic Wave, yang terbit sejak 2001 hingga 2013 dengan 132 edisi, ia merekam sejarah surfing Bali dari dalam komunitasnya sendiri. Ia mendokumentasikan wajah-wajah, kompetisi, perjalanan, serta perubahan lanskap pesisir sebelum era media sosial membanjiri visual dengan kecepatan instan.

Belakangan, melalui Magic Ink, ia juga menjadi penggerak komunitas tato di Bali. Garis besarnya tetap sama: mengarsipkan kultur alternatif, memberi ruang bagi komunitas, dan menjaga identitas.

Foto-foto karyanya dalam Magic in The Waves lahir dari keterlibatan panjang itu. Ia tidak memotret dari kejauhan. Ia memotret dari pengalaman. Barangkali karena itulah foto-foto tersebut terasa bukan hanya indah, tetapi jujur.

Laut di luar sana akan terus bergerak. Ombak akan tetap datang. Namun garis pantai, makna pantai, dan relasi manusia dengannya tidak selalu tetap. Dan, kini, ketika pantai menjadi ruang yang dipertaruhkan, pertanyaan yang menyuat: apakah kita masih mampu menjaga magic itu? ** [agung bawantara]

MAGIC IN THE WAVE
Fotografer : Made Bagus Irawan
Kurator : Ni Komang Erviani
Produser : Rofiqi Hasan
Pameran. : 18 – 28 Februari 2026.
Lokasi. : Warung Kubukopi, Swakarya baru 2X, Jl Sudirman (belakang masjid Al Furqon)

By Bekraf

Related Post