Catatan Agung Bawantara
Pementasan itu tidak dibuka dengan gerak, melainkan dengan suara. Seorang pembaca membacakan puisi yang berbicara tentang pusaran, tentang dunia yang berputar menjauh dari pusatnya sendiri. Kata-kata itu menggema pelan di ruang pertunjukan yang gelap, seperti angin yang lebih dahulu tiba sebelum badai. Penonton belum melihat tubuh penari secara utuh, tetapi mereka sudah digiring memasuki atmosfer yang tidak stabil. Sebuah dunia yang bergerak dalam lingkaran-lingkaran yang makin melebar.
Ketika suara itu selesai, tubuh muncul dalam posisi duduk. Diam. Rendah. Hampir seperti titik kecil di tengah panggung yang luas. Kepala penari sepenuhnya tertutup kain bergambar rajah. Pada kain itu tergambar sosok dewa di pusat, dikelilingi aksara dan sembilan senjata Dewata Nawa Sanga yang menjaga sembilan penjuru mata angin. Simbol kosmos menutupi wajah. Pusat semesta menjadi topeng. Di depannya sebuah periuk tanah berisi air dan kembang bertengger di atas level kecil berselimut kain putih yang dikelilingi taburan kelopak bunga tiga warna.
Cahaya menyorot keras, memisahkan tubuh dari gelap di sekelilingnya. Di tepi belakang panggung, Wayan Gde Yudane dengan laptop dan perangkat elektronik menciptakan lanskap bunyi yang tidak menghadirkan melodi yang mudah diikuti. Musiknya bukan lagu. Ia adalah ruang. Ia adalah dengung, resonansi, frekuensi yang tidak berpusat pada nada tertentu. Seolah-olah bahkan bunyi pun kehilangan titik pijaknya.

Beberapa detik kemudian, dalam posisi kepala yang masih tertutup, kedua tangan penari mulai bergerak. Gerakannya pelan, terfokus, hampir seperti seorang yang sedang menorehkan aksara gaib di udara, juga pada permukaan air di dalam periuk. Dan, ketika kedua tangan penari mengaduk air di dalam periuk, penonton merasakan air berputar mengikuti arah tangan itu. Kelopak bunga terseret membentuk pusaran kecil. Seolah-olah rajah yang menutup kepalanya kini diterjemahkan kembali ke dalam medium cair.
Lalu, sebelum wajahnya tersingkap, sebelum topeng Bhuta Kala terlihat, penari itu menaburkan bunga ke udara. Kembang yang tadinya terkumpul dalam periuk terlempar ke udara, menyebar, jatuh di lantai merah kalangan. Ada percikan air, ada serpihan kelopak yang beterbangan, seperti partikel-partikel dunia yang terlepas dari pusatnya.
Itulah sebagian adegan dari performing art berjudul “The Gyre” yang tampil sebagai nomor pamungkas pada acara Tribute to Kadek Suardhana di Kalangan Ayodya, Pusat Kesenian Bali, Sabtu (7/2/ 2026), malam.
Tubuh yang duduk itu kemudian perlahan mengangkat kain bergambar rajah. Rajah yang biasanya menjadi simbol keteraturan kosmos kini berada di tangan seorang manusia yang sedang mencari makna. Ia tidak dipajang sebagai benda sakral yang utuh dan tak tersentuh. Kain itu digerakkan, dibentangkan, lalu dicelupkan ke dalam air. Garis-garis simbolik itu basah, lentur, tidak lagi kaku. Seperti dunia yang sedang melunak, atau mungkin sedang melebur.
Tidak ada ledakan gerak padanya. Tidak ada teriakan. Yang ada adalah konsentrasi. Gerak kecil yang penuh makna. Penonton dipaksa untuk memperlambat napasnya sendiri agar bisa mengikuti ritme pertunjukan.
Selanjutnya, tubuh itu bergerak lebih lebar. Kain dikibarkan. Lengan membuka ruang. Putaran mulai terjadi. Mula-mula perlahan, lalu semakin mantap. Ia berputar bukan seperti penari yang sedang merayakan ekstase, melainkan seperti seseorang yang menanggung pusaran zaman di dalam dirinya. Kain yang membungkus tubuh membentuk orbit. Cahaya memahat siluetnya. Ruang menjadi medan spiral yang hidup.
Musik tetap tidak memberi pegangan yang nyaman. Tidak ada melodi yang mengantar penonton menuju klimaks emosional yang pasti. Justru ketidakpastian itulah yang menjadi kekuatannya. Bunyi menjadi lanskap psikologis. Tubuh tidak menari mengikuti nada, tetapi menari di atas ketegangan. Waktu terasa memanjang. Tidak ada awal yang jelas dan tidak ada akhir yang benar-benar tegas. Yang ada adalah gerak yang terus memutar, melebar, kembali, dan melebar lagi.

Bunga-bunga yang tercecer di lantai menjadi duta untuk menyampaikan bahwa sesuatu telah dilepaskan. Rajah yang basah menjadi tanda bahwa struktur lama telah diguncang. Tubuh yang berputar menjadi pusat sementara di tengah dunia yang goyah.
Pertunjukan ini tidak memberikan jawaban. Ia tidak mengembalikan pusat yang hilang seperti yang dikhawatirkan dalam puisi pembuka. Ia hanya memperlihatkan bahwa di tengah kekacauan dan ketidakpastian, manusia masih memiliki tubuhnya sebagai poros. Masih ada kemungkinan untuk berdiri, bersimpuh, memutar, dan membuka lengan.
Ketika putaran itu berhenti, yang tersisa bukan cerita yang selesai, melainkan keadaan batin. Penonton tidak membawa pulang alur naratif yang rapi. Mereka membawa pulang rasa. Rasa bahwa dunia memang sedang berputar, dan kita semua berada di dalam pusaran itu. Namun selama tubuh masih mampu menjadi pusat sementara, selama tangan masih bisa menaburkan kembang sebagai isyarat pelepasan, mungkin dunia belum sepenuhnya tercerai.
Pertunjukan itu dimulai dengan puisi tentang pusaran. Dan ia berakhir dengan tubuh yang telah menjadi pusaran itu sendiri. []

Performing Art “The Gyre”
Poem : Robyn Yuwell and Pranita Dewi.
Music : Wayan Gde Yudane
Performer : Nyoman Erawan
Narrator: Sophia Adnyana
