Perusahaan rintisan teknologi asal Bali, Baliola, kembali melangkah maju dalam inovasi kesehatan digital melalui implementasi percontohan Medisa Voice-to-EMR, teknologi pencatatan rekam medis otomatis berbasis kecerdasan buatan dan blockchain. Uji coba ini berlangsung dalam kegiatan Medical Check-Up Program Telkomsel Malang 2026 yang diikuti oleh 60 karyawan Telkomsel.
Bagi Baliola, kolaborasi ini menjadi momentum penting untuk membuktikan bahwa inovasi buatan anak bangsa mampu menjawab persoalan nyata di lapangan, terutama beban administratif tenaga medis yang selama ini menjadi salah satu hambatan utama kualitas layanan kesehatan.
“Selama ini dokter sering terjebak pada pekerjaan mengetik dan mengisi formulir, bukan mendengarkan pasien. Medisa kami rancang agar teknologi bekerja di belakang layar, sementara dokter bisa kembali hadir secara utuh di depan pasien,” ujar Carissa Almira, Co-founder Medisa, platform kesehatan yang dikembangkan Baliola.
Data adopsi Electronic Medical Record (EMR) di Indonesia memang telah mencapai sekitar 96 persen, namun tingkat kelengkapan datanya baru berada di kisaran 52 persen. Artinya, sistem sudah tersedia, tetapi kualitas dokumentasi masih jauh dari ideal. Kondisi inilah yang menjadi titik masuk inovasi Baliola.
Melalui Medisa Voice, percakapan dokter dan pasien saat anamnesis ditranskripsikan otomatis menjadi format rekam medis terstruktur. Teknologi ini menggunakan pendekatan doctor-in-the-loop, di mana hasil transkripsi tetap direview dan disahkan oleh dokter sebelum menjadi bagian dari EMR final.
Pendekatan tersebut, menurut tim Baliola, penting agar AI tidak menggantikan otoritas klinis, melainkan menjadi asisten cerdas yang mempercepat kerja tenaga kesehatan tanpa mengurangi aspek etik dan profesional.
Blockchain sebagai Fondasi Kepercayaan
Keunikan solusi Baliola terletak pada pemanfaatan blockchain sebagai lapisan keamanan data. Rekam medis yang dihasilkan Medisa Voice disimpan secara terenkripsi end-to-end dan dicatat dalam rantai data yang bersifat immutable serta dapat diaudit.
Langkah ini dirancang untuk menjawab kekhawatiran publik terkait perlindungan data pribadi, sekaligus mendukung kepatuhan terhadap UU Perlindungan Data Pribadi dan standar integrasi nasional SATUSEHAT.
“Kepercayaan adalah mata uang utama layanan kesehatan. Karena itu, kami memastikan setiap data yang dihasilkan Medisa memiliki jejak audit yang jelas dan tidak dapat dimanipulasi,” jelas tim pengembang Baliola.
Dalam pilot project ini, Telkomsel Malang berperan sebagai sponsor program sekaligus penyedia infrastruktur dan peserta pemeriksaan. Sementara pemeriksaan medis dilakukan oleh Rhazes Medical Team Fakultas Kedokteran UIN Malang, yang bertindak sebagai pengguna langsung sistem Medisa Voice.
Bagi Baliola, keterlibatan institusi pendidikan kedokteran dan korporasi besar seperti Telkomsel menjadi kombinasi ideal untuk menguji teknologi dalam situasi nyata, bukan sekadar simulasi laboratorium.
Sejumlah indikator yang dievaluasi meliputi:
• Perbandingan waktu dokumentasi manual vs Medisa Voice,
• Tingkat kelengkapan EMR yang dihasilkan,
• Akurasi transkripsi dan kecepatan proses review,
• Umpan balik dokter terkait kemudahan penggunaan.
Hasil evaluasi ini akan menjadi dasar penyempurnaan produk sebelum memasuki tahap production release.
Visi Nasional dari Inovasi Bali
Meski dimulai di Malang, Baliola memandang proyek ini sebagai langkah awal menuju transformasi kesehatan skala nasional. Perusahaan menargetkan implementasi lebih luas mulai kuartal kedua 2026, termasuk integrasi dengan ekosistem SATUSEHAT dan kemitraan dengan rumah sakit serta fakultas kedokteran di berbagai daerah.
Bagi Baliola, Medisa bukan sekadar produk teknologi, melainkan upaya menghadirkan kembali sisi manusiawi dalam praktik kedokteran.
“Teknologi kesehatan tidak diukur dari kecanggihannya, tetapi dari kemampuannya membuat dokter lebih fokus pada pasien dan membuat pasien merasa lebih didengar,” tutup Carissa.**[bekraf/rls]
