Fri. Apr 17th, 2026

Terpilih sebagai Ketua DPW GEKRAFS Bali, Ari SW Usung Tujuh Gerakan Ekosistem Kreatif

Ari Setiya Wibawa (Ari SW) terpilih sebagai Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (GEKRAFS) Bali dalam Musyawarah Wilayah (Muswil) dan Musyawarah Cabang (Muscab) serentak GEKRAFS se-Provinsi Bali yang digelar pada 4 Maret 2026 di Ruang Audiovisual Dharma Negara Alaya (DNA), Denpasar.

Forum ini dihadiri para pelaku ekonomi kreatif dari berbagai kabupaten/kota di Bali sekaligus menjadi momentum konsolidasi organisasi GEKRAFS di tingkat wilayah dan daerah.

Acara pembukaan dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Kota Denpasar Ngurah Oklay yang mewakili Kepala Dinas Pariwisata Kota Denpasar, Koordinator Wilayah ICCN Gede Bagus Perdana Putra, Wakil Koordinator Indonesia Tengah GEKRAFS Nasional Sakhrul Mubarak, serta Ketua Umum HIPMI Denpasar I Wayan Putu Wawan Widiana. Kegiatan ini dipimpin oleh Ketua OC Muswil GEKRAFS Bali dr. I Putu Wirama, S.Ked., MARS.

Dalam sesi penutupan, hadir sejumlah pengurus nasional GEKRAFS, di antaranya Wakil Ketua Umum GEKRAFS Nasional Laja Putra Nusmo Lapian, Wakil Bendahara Umum Aldila Rhomadon, Ketua OKK GEKRAFS Nasional Arifin Ihsan Rismansyah, serta Senior GEKRAFS Bali I G. N. Darmaputra.

Selain menetapkan Ketua DPW Bali, Muswil dan Muscab serentak ini juga merekomendasikan kepengurusan DPC di seluruh kabupaten/kota di Bali. Para ketua yang direkomendasikan meliputi Putu Agus Surya Eka Prasetya (Denpasar), I Komang Albetho Andyana (Badung), I Wayan Gede Mudita Pradana (Gianyar), Kadek Surya Prasetya Wiguna (Tabanan), Jaya Ishawari (Bangli), Komang Sandi Putra (Klungkung), I Gusti Made Gari Mahardika (Karangasem), Putu Eka Saputra (Buleleng), serta I Ketut Sassu Budi Satwan (Jembrana).

Dalam kesempatan tersebut, Ari SW memaparkan Program Strategis GEKRAFS Bali 2026 yang dirumuskan dalam konsep “7 Gerakan Ekosistem Kreatif Bali.”

“Ada tiga tujuan besar yang ingin kami dorong melalui program ini, yaitu memperkuat ekosistem kreatif Bali, membangun ekonomi kreatif berbasis kekayaan intelektual, dan menjadikan Bali sebagai hub kreatif berbasis budaya,” ujar Ari SW.

Program pertama yang menjadi fokus utama adalah Bali IP Movement, yaitu gerakan perlindungan kekayaan intelektual bagi kreator Bali. Menurut Ari SW, persoalan klasik di Bali adalah banyak karya kreatif yang belum dilindungi secara hukum.

“Bali memiliki kreativitas luar biasa, tetapi sering kali karya itu tidak didaftarkan sebagai kekayaan intelektual. Melalui program ini kami ingin memberikan edukasi, klinik pendaftaran karya, dan pendampingan kreator,” katanya.

Melalui kerja sama dengan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, GEKRAFS Bali menargetkan 100 karya kreatif Bali terdaftar IP serta penyelenggaraan 10 workshop edukasi IP bagi kreator sepanjang 2026.

Program kedua adalah Bali Creative Archive, yaitu pengembangan arsip digital karya kreatif Bali. Program ini bertujuan mendokumentasikan karya-karya kreatif yang selama ini tersebar dan belum tercatat secara sistematis.

“Kita menghasilkan ribuan karya kreatif setiap tahun, tetapi dokumentasinya sangat lemah. Padahal arsip sangat penting untuk penelitian, pengembangan IP, dan promosi karya,” jelasnya.

Program ini menargetkan 500 karya kreatif Bali terdokumentasi dalam bentuk foto, video, data kreator, dan konsep karya.

Program berikutnya adalah Bali Creative Hub Media, yaitu pembangunan kanal multiplatform ekonomi kreatif Bali melalui website, YouTube, Instagram, TikTok, dan podcast. Kanal ini akan menampilkan profil kreator, cerita di balik karya, serta tren dan peluang industri kreatif. Targetnya adalah 200 konten kreatif diproduksi dan 100 kreator Bali diprofilkan.

GEKRAFS Bali juga merancang Bali Creative Network, sebuah program untuk memperkuat kolaborasi antar pelaku kreatif melalui forum kreatif, creative meetup, dan networking. Program ini menargetkan enam forum kreatif Bali sepanjang tahun.

Sementara itu, melalui Creative Generation Program, GEKRAFS Bali ingin melibatkan generasi muda dalam ekosistem kreatif melalui workshop kampus, mentoring kreator muda, serta showcase karya generasi baru. Targetnya adalah 200 kreator muda terlibat dalam program ini.

Program unik lainnya adalah Ogoh-Ogoh Creative Project, yang berfokus pada dokumentasi dan pengembangan kreativitas ogoh-ogoh sebagai fenomena seni khas Bali. Program ini akan menghasilkan katalog ogoh-ogoh Bali serta profil kreatornya, sekaligus membuka peluang pengembangan IP visual berbasis budaya Bali.

Program terakhir adalah Bali Creative Showcase, yaitu etalase karya kreatif yang mempertemukan kreator dengan publik dan industri melalui pameran, showcase karya, serta presentasi kreator.

Secara keseluruhan, GEKRAFS Bali menargetkan pada tahun 2026 tercapai 500 karya kreatif terdokumentasi, 100 karya terdaftar IP, 200 konten kreatif diproduksi, 100 kreator diprofilkan, 200 kreator muda terlibat, enam forum kreatif terselenggara, serta satu showcase kreatif Bali.

Ari SW menegaskan bahwa seluruh program tersebut akan dijalankan melalui kolaborasi dengan komunitas kreatif, kampus seni dan desain, pemerintah daerah, galeri seni, serta studio kreatif di Bali.

“Peran GEKRAFS adalah menjadi penggerak komunitas, fasilitator kolaborasi, dan penghubung antara kreator dan industri,” ujarnya.

Ia berharap langkah ini dapat memperkuat posisi Bali tidak hanya sebagai pulau seni, tetapi juga sebagai pusat ekonomi kreatif berbasis kekayaan intelektual budaya. [bekraf/rls]

By Bekraf

Related Post