Mon. Jun 8th, 2026

KENGAWURAN DALAM DUNIA SINEMA

Oleh Putu Kusuma Wijaya

American Pie adalah lagu ciptaan Don McLean yang pada masanya menjadi lagu wajib bagi penyanyi solo atau duo akustik di pub-pub Kuta dan Legian. Liriknya bergerak ke segala arah, membicarakan banyak hal, dari gereja hingga The Beatles. Satu tema menyambung ke tema lain tanpa pola yang tampak jelas. Namun, sering kali justru dari ketidakteraturan lahir sebuah keteraturan. American Pie ibarat gado-gado atau rijsttafel: bukan menunjuk pada satu jenis makanan tertentu seperti lemper atau sate, melainkan sebuah perpaduan yang membentuk kesatuan.

Dalam dunia film, ada Christopher Nolan yang mendekonstruksi sinema melalui cara bercerita yang terbalik dalam Memento. Ia mencari bentuk yang tidak lazim, mungkin didorong oleh semangat untuk menempuh jalan berbeda dari yang diajarkan sekolah film. Semangat serupa juga terlihat pada Quentin Tarantino yang mengacak-acak struktur narasi dalam Pulp Fiction. Mereka seolah berangkat dari sesuatu yang tampak ngawur, tidak terlalu mengindahkan pakem yang biasa diajarkan dalam pendidikan perfilman.
Hal yang sama dapat ditemukan pada Yasujirō Ozu, salah satu maestro sinema dunia. Ia seakan tidak peduli pada cara orang Amerika membuat film. Para pemainnya sering diminta menatap langsung ke arah kamera ketika berdialog. Pada akhirnya, Ozu menunjukkan bahwa bukan semata-mata aspek teknis yang membangun karya abadi, melainkan kekuatan cerita dan kemanusiaan yang dikandungnya.

Nama-nama besar perfilman dunia itu sering kali memulai perjalanan kreatifnya dari wilayah yang tampak “ngawur”. Karena itu, saya cukup terkejut ketika mendengar Yosep Anggi Noen datang ke Rumah Film Sangkarsa sebagai pembicara tanpa tema khusus dan berbicara tentang apa saja. Ia bercerita bahwa awal mula dirinya belajar memahami film dipenuhi berbagai ketidaktahuan yang cenderung ngawur. Anggi Noen bukan lulusan sekolah film yang mempelajari sejarah sinema secara sistematis dan bertahap sesuai kurikulum. Pengalamannya menunjukkan bahwa seseorang dapat menjadi pembuat film tanpa harus melalui pendidikan film formal.
Kemudian ada Lars von Trier, sutradara asal Denmark yang dalam Melancholia terlihat begitu bebas memotong filmnya. Jump cut muncul di mana-mana, bahkan hampir pada setiap adegan. Potongan-potongan mengejutkan yang tampak “ngawur” itu justru membentuk sebuah penataan yang unik. Seolah-olah Lars von Trier menyerahkan serpihan-serpihan filmnya kepada semesta dan berharap semuanya menemukan tempat yang tepat.

Yang tak kalah “ngawur” adalah Wong Kar-wai. Ia kerap memanggil para pemainnya tanpa benar-benar mengetahui film seperti apa yang akan dibuat. Para aktor yang telah percaya pada visinya datang dan menunggu, sementara sang sutradara berdiskusi dengan penata kameranya, Christopher Doyle. “Mulutnya bau bir, saya takut,” demikian salah satu pengakuan Maggie Cheung. Dari proses yang tampak kacau itu lahirlah In the Mood for Love, sebuah film yang begitu kuat hingga membuat Alejandro G. Iñárritu bercerita bahwa setelah menontonnya, saat berjalan pulang, istrinya tiba-tiba berhenti dan menangis. Sinema kadang mampu melempar manusia ke ruang emosi yang sangat sensitif.

Belum lagi kisah pada tahun 1984 ketika seorang pemuda Amerika bernama Jim Jarmusch membuat Stranger Than Paradise bersama teman-temannya pada waktu-waktu luang. Film itu kemudian mengejutkan banyak orang dengan berbagai penghargaan yang diraihnya dan hingga kini masih sering diputar di sekolah-sekolah film. Ia menunjukkan bagaimana kesederhanaan dapat membangun narasi yang besar.
Meski banyak “kengawuran” melahirkan karya-karya penting dalam sejarah sinema, tentu ada pula kengawuran yang benar-benar berakhir sebagai kekacauan. Cerita Anggi Noen siang itu, tentang masa kecilnya, lingkungan yang membentuknya, hingga tekadnya untuk hidup dalam dekapan sinema, membawa saya pada berbagai kisah para pembuat film dunia yang tetap berkarya dengan segala keras kepala mereka.

Beberapa waktu setelah pertemuan itu, Anggi Noen menulis di akun Instagramnya bahwa ia memperoleh semangat baru dari perjumpaan dengan anak-anak muda yang mulai berdesakan memasuki gerbang sinema. Mungkin ia seperti melihat dirinya sendiri ketika pertama kali berdiri di hadapan sesuatu yang benar-benar baru. Anak-anak muda itu ingin berkarya, sekaligus menguji diri: apakah dunia sinema memang jalan yang layak mereka tempuh seumur hidup.

Di tengah percakapan dunia film nasional yang ramai oleh PESTA BABI, Rumah Film Sangkarsa memilih mengadakan pesta kecil-kecilan. Dalam beberapa minggu ke depan, Rumah Film Sangkarsaa mengundang para pecinta film muda untuk belajar berbagai aspek dunia sinema. Dari Anggi Noen, kita dapat belajar bahwa karya besar sering lahir tanpa tekanan berlebihan—seperti seorang anak kecil yang membangun istana pasir di pantai sambil tertawa dan bermain. Dari proses yang tampak ringan itulah sesuatu yang penting kadang tercipta.

Saya teringat pada ucapan Joel Coen dan Ethan Coen ketika film No Country for Old Men meraih penghargaan besar: “Kami membuat film ini seperti ketika kami membuat film saat masih remaja.”
Masa remaja dan masa kanak-kanak memiliki keistimewaan tersendiri. Pada masa itu seseorang dapat mencoba banyak hal tanpa terlalu dibebani harapan dan tekanan dari berbagai pihak. Dengan modal semangat, kengawuran yang tertata, kemauan untuk terus belajar, serta sedikit harapan agar semesta ikut membantu, bukan mustahil sebuah karya yang indah dan memukau dunia dapat tercipta.[]

 

Putu Kusuma Wijaya lahir di Singaraja, Bali. Ia adalah sutradara film yang diperhitungkan. Ia belajar film dan televi di Amsterdam Hogeschool voor de Kunsten. Ia pernah lama bekerja pada salah satu televisi swasta. Kemudian ia membantu sutradara Garin Nugroho dalam menggarap film “Under The Tree” dan “Tjokroaminoto”. Film-film buatannya pernah diputar dalam berbagai festival film internasional, di antaranya film “Langkah Kecil Pagi” diputar di Rotterdam Film Festival, “The North Wind” diputar di Festival Film Dokumenter Amsterdam, “On Mother’ Head” diputar di Shanghai dan Taiwan Film Festival.

By Bekraf

Related Post

Redaktur Tamu