Tue. May 19th, 2026

Monkey Millennial: Ketika Limbah Kopi Menjadi Art Toys untuk Kampanye Petani Lokal

Di tengah meningkatnya kesadaran tentang keberlanjutan lingkungan, persoalan limbah perkotaan dan masa depan pangan lokal mulai menjadi perhatian penting dalam dunia kreatif. Salah satu yang kini banyak dibicarakan adalah bagaimana sampah atau limbah konsumsi sehari-hari dapat diubah menjadi produk bernilai tinggi yang tidak hanya memiliki fungsi estetika, tetapi juga membawa pesan sosial dan budaya. Di tengah arus budaya konsumsi modern, lahir pula dorongan untuk kembali mengingat petani lokal sebagai fondasi utama kehidupan pangan masyarakat.

Gagasan inilah yang coba dijawab melalui sebuah art toys bernama “Monkey Millennial” karya kreator Bali, I Komang Adiartha. Produk desain ini memanfaatkan limbah bubuk kopi dari coffee shop sebagai material utama pembuatannya. Menariknya, karya tersebut kini berhasil masuk dalam daftar seleksi Intellectual Property (IP) pada “ICCN Open Call IP 2026” untuk subsektor produk desain.

ICCN atau Indonesian Creative Cities Network sebelumnya mengumumkan bahwa setelah melalui proses seleksi ketat dari ratusan pendaftar di seluruh Indonesia, terpilih 53 Intellectual Property (IP) yang lolos ke Tahap Kurasi Substantif “ICCN Open Call IP 2026”. Program ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem kreatif dan kekayaan intelektual Indonesia.

Monkey Millennial hadir bukan sekadar sebagai produk collectible art toys. Karakter monyet bergaya sederhana tersebut membawa kampanye bertajuk “Support Local Farmers” yang mengajak masyarakat kembali memberi perhatian pada petani lokal, pangan lokal, serta isu kedaulatan pangan.

“Rata-rata satu coffee shop bisa menghasilkan limbah bubuk kopi hingga sekitar 40 kilogram per bulan. Dari situ muncul pemikiran bagaimana limbah ini tidak hanya dibuang, tetapi bisa diolah kembali menjadi sesuatu yang memiliki nilai,” ujar I Komang Adiartha.

Melalui pendekatan upcycle, limbah bubuk kopi diolah menjadi material patung karakter Monkey Millennial. Hasil akhirnya menghadirkan tekstur dan warna alami yang unik, sekaligus memperlihatkan bagaimana material sisa konsumsi urban dapat masuk ke ranah produk kreatif dan desain kontemporer.

Di balik tampilannya yang sederhana, Monkey Millennial membawa refleksi tentang hubungan manusia modern dengan sumber pangan mereka. Di tengah berkembangnya budaya nongkrong dan coffee shop di perkotaan, karakter ini hadir sebagai pengingat bahwa secangkir kopi tetap berawal dari kerja panjang para petani di desa-desa.

Secara visual, Monkey Millennial juga memiliki potensi kuat sebagai intellectual property. Bentuk karakternya yang sederhana dan mudah dikenali membuka peluang pengembangan lebih luas, mulai dari collectible toys, merchandise, limited edition series, hingga kolaborasi dengan festival kreatif, coffee shop, dan komunitas lingkungan.

Masuknya Monkey Millennial dalam tahap seleksi ICCN menjadi penanda bahwa karya berbasis narasi lokal dan keberlanjutan mulai mendapat ruang dalam ekosistem ekonomi kreatif Indonesia. Di tengah dominasi produk visual yang sering berorientasi tren sesaat, Monkey Millennial menawarkan pendekatan berbeda: menggabungkan seni, desain, lingkungan, dan isu pangan dalam satu medium yang dekat dengan generasi muda. [Bekraf/abe]

By Bekraf

Related Post

Redaktur Tamu