Sat. Apr 18th, 2026

Ketika Ide Sulit Dihitung: Membaca Kasus Amsal Sitepu dari Perspektif Ekonomi Kreatif

Oleh: Agung Bawantara

Ada satu bagian dari sebuah produksi video yang sering tidak terlihat, tetapi justru menentukan segalanya. Ia tidak berbentuk kamera, tidak berupa lokasi syuting, dan tidak tercatat sebagai barang. Ia hadir dalam proses berpikir yang panjang, dalam percakapan yang tak terdokumentasi, dalam keputusan-keputusan kecil yang mengarahkan keseluruhan cerita. Bagian itu adalah ide beserta seluruh proses kreatif yang mengikutinya.

Belakangan ini, publik dihadapkan pada perbincangan mengenai kasus yang melibatkan seorang videografer di Sumatera Utara, Amsal Christy Sitepu. Perkara ini sedang berjalan di pengadilan, dan tentu kita semua menghormati proses hukum yang sedang berlangsung. Dalam situasi seperti ini, kehati-hatian menjadi penting. Bukan untuk menghindari pembicaraan, melainkan untuk menjaga agar pembacaan kita tetap jernih dan proporsional.

Namun di balik perkara hukum tersebut, ada satu isu yang terasa lebih luas dari sekadar kasus individu. Isu ini menyentuh satu pertanyaan mendasar: bagaimana kita menilai kerja kreatif?

Dalam beberapa laporan yang beredar, muncul perdebatan mengenai bagaimana proses kreatif seperti pencarian ide, penyusunan konsep, hingga editing, diposisikan dalam struktur anggaran. Bagi sebagian pihak, terutama dalam kerangka administratif, nilai suatu pekerjaan sering kali diukur dari apa yang bisa dihitung secara langsung: jumlah hari kerja, penggunaan alat, atau output yang kasat mata.

Di sisi lain, dalam praktik industri kreatif, proses yang tidak kasat mata justru menjadi inti dari nilai itu sendiri. Sebuah video bukan hanya hasil dari pengambilan gambar, tetapi dari cara gambar itu dipikirkan, disusun, dan diolah menjadi narasi yang utuh. Editing bukan sekadar merangkai potongan visual, melainkan proses membangun makna.

Di titik inilah dua cara pandang bertemu dan kadang tidak sepenuhnya saling memahami. Bagi pelaku kreatif, waktu yang dihabiskan untuk memikirkan konsep bisa lebih panjang daripada waktu produksi. Bagi sistem administrasi, waktu tersebut sering kali sulit didefinisikan dalam satuan yang baku. Perbedaan cara melihat ini tidak selalu bermasalah, tetapi dalam situasi tertentu, ia bisa menjadi titik gesekan.

Kasus yang sedang berjalan ini, jika dilihat dari kejauhan, memperlihatkan adanya ruang yang masih perlu dijembatani. Bukan untuk menentukan siapa yang benar atau salah –itu adalah wilayah hukum, melainkan untuk memahami bahwa ada jenis pekerjaan yang tidak mudah diterjemahkan ke dalam tabel dan angka.

Ekonomi kreatif, yang selama ini didorong sebagai salah satu masa depan Indonesia, bertumpu pada hal-hal yang sering tidak berwujud: ide, ekspresi, tafsir, dan pengalaman. Nilainya tidak selalu terletak pada apa yang terlihat, tetapi pada bagaimana sesuatu itu dirasakan dan dimaknai.

Dalam konteks inilah, penting bagi kita untuk mulai membangun bahasa bersama. Bahasa yang bisa dipahami oleh pelaku kreatif, sekaligus dapat diterima dalam sistem pengelolaan dan pengawasan yang ada. Tanpa bahasa bersama, perbedaan akan terus muncul, dan setiap perbedaan berpotensi menjadi persoalan.

Mungkin yang sedang kita hadapi bukan hanya sebuah kasus, tetapi sebuah momen pembelajaran. Bahwa di tengah perubahan zaman, cara kita menilai pekerjaan juga perlu ikut berkembang. Bahwa di era di mana ide menjadi salah satu sumber utama nilai ekonomi, kita perlu menemukan cara untuk mengakuinya secara lebih utuh.

Di Bali, juga di dareah lain di Indonesia, kita sering melihat bagaimana sebuah karya tidak hanya dinilai dari bahan dan bentuknya, tetapi dari gagasan, simbol, dan tafsir yang melatarbelakanginya. Nilai itu hadir dalam proses yang panjang, yang tidak selalu bisa diukur secara sederhana. Pengalaman-pengalaman seperti ini bisa menjadi pengingat bahwa kerja kreatif memiliki karakter yang berbeda. Ia membutuhkan pendekatan yang berbeda pula.

Kini, biarlah proses hukum berjalan sebagaimana mestinya. Sementara itu, ruang diskusi tetap terbuka. Bukan untuk menghakimi, melainkan untuk memahami. Karena mungkin, di balik peristiwa ini, ada kesempatan untuk melihat kembali satu hal yang sering luput: bahwa tidak semua yang bernilai bisa langsung dihitung, dan tidak semua yang sulit dihitung berarti tidak memiliki nilai. []

By Bekraf

Related Post