Tue. Apr 28th, 2026

Parade Budaya Desa Adat Tambawu, Tradisi yang Terus Menemukan Bentuk Zaman

Menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948, Desa Adat Tambawu bersiap menggelar Parade Budaya Kasanga, sebuah perhelatan budaya yang tidak hanya menjadi bagian dari siklus ritual tahunan, tetapi juga mencerminkan kesadaran baru desa adat dalam memaknai ogoh-ogoh sebagai ruang edukasi, regenerasi, dan ekspresi kreatif generasi muda.

Parade Budaya Kasanga Desa Adat Tambawu Caka 1948 dirancang dengan melibatkan anak-anak, sekaa truna, dan krama desa secara menyeluruh. Seluruh rangkaian kegiatan dipusatkan di ruang publik desa, menjadikan momentum Kasanga bukan sekadar pengantar menuju Nyepi, melainkan panggung budaya desa yang hidup dan relevan dengan konteks zaman.

Ketua Paiketan Yowana Desa Adat Tambawu, I Gede Varga Danis Whara, menjelaskan bahwa Parade Budaya Kasanga sejak awal dimaknai sebagai ruang kreatif dalam skala adat, yang memberi kesempatan bagi generasi muda untuk terlibat aktif dalam proses kebudayaan.

“Parade Budaya Kasanga merupakan sebuah wadah ataupun ruang kreatif pada skala adat, khusus di Desa Adat Tambawu,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pada penyelenggaraan tahun kedua yang berlangsung pada 2026, Parade Budaya Kasanga mengusung tema “Warih ing Budaya Telenging Yuga”, yang dimaknai sebagai upaya melanjutkan warisan tradisi di tengah era masa kini.

“Ogoh-ogoh merupakan budaya yang sudah secara turun-temurun menyatu di dalam masyarakat adat, khususnya di Denpasar. Karena itu, kita perlu memberi perhatian dan stimulus agar budaya ogoh-ogoh tetap bisa dirasakan dan dinikmati oleh semua kalangan—baik anak-anak hingga lansia—di tengah gempuran modernisasi,” jelasnya.

Menurut Gede Varga, Paiketan Yowana Tambawu menaungi tiga banjar atau STT yang hingga kini berjalan dalam satu irama. Konsistensi tersebut menjadi fondasi agar kegiatan budaya seperti Parade Budaya Kasanga dapat terus berlanjut sebagai proses kebudayaan, bukan sekadar agenda tahunan.

“Astungkara kami satu irama dan konsisten dalam merealisasikan kegiatan seperti ini, sehingga ke depan bisa berkelanjutan,” tambahnya.

Pelaksanaan Parade Budaya Kasanga berada dalam lanskap sakral Tahun Baru Saka 1948, sehingga memiliki kedudukan penting dalam kehidupan religius dan sosial umat Hindu Bali. Dalam konteks ini, festival ogoh-ogoh di Tambawu tidak diposisikan sebagai tontonan semata, melainkan sebagai bagian dari proses kebudayaan yang tumbuh dari dalam desa adat.

Salah satu aspek yang menonjol adalah pelibatan anak-anak dalam kegiatan ngigelin sanan ogoh-ogoh. Keterlibatan ini menunjukkan arah regenerasi budaya sejak usia dini, di mana anak-anak mulai mengenal simbol, nilai, dan praktik kebudayaan melalui pengalaman langsung. Proses ini berlangsung secara alamiah, namun memiliki dampak jangka panjang dalam menumbuhkan rasa memiliki terhadap tradisi desa adat.

Di sisi lain, sekaa truna Desa Adat Tambawu tampil sebagai motor penggerak utama kegiatan. Peran mereka tidak berhenti pada partisipasi parade, tetapi mencakup perancangan konsep, persiapan karya, hingga pengelolaan teknis acara.

Pegiat Ekonomi Kreatif, Ari Setia Wibawa, menilai model festival berbasis desa adat seperti yang berlangsung di Tambawu sebagai bentuk praktik baik dalam pengelolaan kebudayaan lokal. Menurutnya, ketika desa adat diberi ruang untuk merancang dan mengelola festivalnya sendiri, tradisi tidak hanya terjaga, tetapi juga menemukan relevansinya bagi generasi baru.

“Ogoh-ogoh tidak berhenti sebagai karya visual tahunan. Ia adalah proses belajar bersama, ruang regenerasi, dan bagian dari ekosistem ekonomi kreatif berbasis budaya jika dikelola dengan kesadaran dan konsistensi,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa ketika generasi muda diberi kepercayaan sebagai perancang dan pengelola kegiatan budaya, di situlah kepemimpinan kultural tumbuh secara organik dan berkelanjutan.

Parade ogoh-ogoh yang digelar sepenuhnya berbasis Desa Adat Tambawu, dengan seluruh peserta berasal dari lingkungan desa sendiri. Pendekatan ini memperkuat parade sebagai ekspresi internal desa, bukan ajang lintas wilayah atau kegiatan yang berorientasi komersial. Pemilihan Catus Pata Desa Adat Tambawu sebagai lokasi kegiatan juga menegaskan fungsi ruang publik desa sebagai pusat ekspresi budaya dan pertemuan sosial.

Parade Budaya Kasanga Caka 1948 turut membuka ruang adaptasi terhadap budaya digital melalui penyelenggaraan lomba video pendek. Inisiatif ini memberi kesempatan bagi generasi muda untuk mendokumentasikan kegiatan budaya melalui medium visual yang dekat dengan keseharian mereka. Dokumentasi tersebut tidak hanya berfungsi sebagai konten media sosial, tetapi berpotensi menjadi arsip budaya desa di masa depan.

Seluruh rangkaian kegiatan diselenggarakan tanpa biaya pendaftaran, mencerminkan semangat gotong royong dan inklusivitas. Pengelolaan acara dilakukan secara lebih tertata, dengan jadwal pendaftaran, technical meeting, serta kriteria kegiatan yang jelas. Hal ini menandai pergeseran penting dari tradisi yang berjalan alamiah menuju tradisi yang disadari, dirawat, dan dikelola bersama.

Dalam konteks yang lebih luas, apa yang berlangsung di Desa Adat Tambawu mencerminkan dinamika festival ogoh-ogoh desa di Bali hari ini. Ogoh-ogoh tidak lagi dipahami semata sebagai karya seni rupa berskala besar atau pengantar malam pengerupukan, tetapi sebagai media pendidikan kultural, proses regenerasi, dan bahasa visual yang terus diperbarui oleh zaman.

Dengan menjaga keseimbangan antara keterbukaan dan kesakralan, antara kreativitas dan pakem, serta antara tontonan dan tuntunan, Parade Budaya Kasanga Desa Adat Tambawu Caka 1948 menjadi contoh bagaimana tradisi lokal terus menemukan bentuk zamannya—bergerak maju, namun tetap berpijak kuat pada nilai-nilai desa adat. ** [bekraf/rls]

By Bekraf

Related Post

Redaktur Tamu