Oleh : Agung Bawantara
Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, ratusan warga Denpasar berkumpul di sekitar Patung Catur Muka di Catus Pata, perempatan utama kota. Malam itu adalah malam pengerupukan, sehari menjelang Hari Nyepi. Udara sedikit lembap. Kerumunan makin padat. Jalanan sekitar bundaran ditutup, dipenuhi karya-karya terbaik tahun ini.
Di antara banyaknya ogoh-ogoh yang tampil malam itu, ada satu yang mencuri perhatian. Tingginya mencolok. Tapi bukan itu yang membuat orang tak bisa berpaling. Di tengah ogoh-ogoh itu, duduk seorang perempuan bersila. Perutnya membulat. Ia hamil, tenang, dan… tak terganggu.
Namanya Bibi Anu. Nama yang diambil dari gending rare, lagu peninabur yang biasa dinyanyikan menjelang bayi tidur. Lagu yang barangkali terdengar biasa saja. Tapi seperti banyak hal dalam hidup, yang terdengar biasa sering menyimpan makna yang tak biasa. Lagu itu menyelipkan perlindungan, ketahanan, dan doa. Dalam bentuk paling sederhana: bawang, mesui, pisau tumpul, dan harapan yang tak diucapkan keras-keras. Tak perlu tajam untuk kuat, tak perlu ribut untuk bertahan.
Ogoh-ogoh ini dibuat oleh Sekaa Teruna Canti Graha dari Banjar Tengah, Sesetan. Dan sejak awal sudah terasa bahwa ini bukan ogoh-ogoh biasa. Bukan hanya karena bentuknya, tapi juga karena satu hal lain: air. Ada kolam betulan di bagian bawah. Bukan dicat biru, bukan diberi lampu. Air yang bisa tumpah dan sempat bocor. Tapi mereka tetap lanjut. Karena memang ini bukan main-main.
Bibi Anu duduk di tengah kolam itu. Air disiramkan pelan ke tubuhnya—sebagai lambang melukat. Penyucian diri. Tapi bukan hanya air biasa. Air itu mengalir dari mulut seekor naga. Sebuah pancuran yang dirancang seperti naga, dengan mulut terbuka lebar, memuntahkan aliran bening ke arah perempuan hamil itu.
Dalam tradisi Bali dan banyak kebudayaan Asia, naga bukan sekadar makhluk mitologi. Ia penjaga air, pelindung kesuburan, perantara antara alam atas dan dunia manusia. Air yang keluar dari mulut naga itu bukan hanya simbol kebersihan, tapi juga aliran kekuatan ilahi. Maka ketika perempuan itu duduk tepat di hadapan pancuran naga, ia bukan sekadar sedang dimandikan. Ia sedang menerima berkat langsung dari kekuatan semesta.
Simbol ini memperkuat bahwa rahim perempuan adalah pusat penciptaan. Bahwa seorang ibu tidak hanya membawa hidup, tapi juga menjadi pusat dari keseimbangan antara terang dan gelap. Naga dan airnya adalah pelindung. Tapi di sekelilingnya berdiri makhluk-makhluk yang mewakili hal sebaliknya.
Tiga sosok lelaki bertubuh besar dengan ekspresi mengancam berdiri mengelilinginya. Satu berjongkok di depan, dua lainnya di kiri dan kanan. Mereka adalah symbol dari suara-suara yang sering datang di kepala seorang perempuan ketika ia hamil dalam situasi sulit. Suara yang menyuruh menyerah. Yang bilang, “Hidupmu akan hancur.” Yang mengulang-ulang kalimat: “Untuk apa mempertahankan sesuatu yang belum tentu diterima dunia?”
Dan di atas, berdiri sosok paling mengganggu dari semuanya. Seorang perempuan tua, bungkuk, menyeringai sambil membawa lentera. Ia seperti pengawas dari atas, mewakili energi gelap yang menyusup dengan wajah bijaksana. Mungkin ia datang dengan kalimat lembut, tapi penuh racun. “Gugurkan saja, kamu masih muda. Kamu akan bebas.”
Karya ini, singkatnya, bukan soal bentuk. Bukan pula soal artistik semata. Ini adalah pernyataan. Tentang pergulatan perempuan yang tak selalu punya tempat untuk bersuara. Tentang kehamilan yang tidak selalu dirayakan, kadang justru diragukan, bahkan dihakimi.
Bibi Anu tidak melawan mereka dengan teriakan. Tidak berdiri dan menghantam. Ia duduk. Tenang. Dalam diam. Tapi dari tubuh yang diam itu, keluar suara paling keras malam itu: keberanian.
Ketika ogoh-ogoh ini diumumkan sebagai yang terbaik dalam Lomba Ogoh-Ogoh Kota Denpasar 2025, sebagian orang mungkin mengira karena bentuknya, atau karena detail kolam dan pancuran airnya. Tapi mereka yang paham tahu, ini tentang keberanian menyampaikan sesuatu yang sering tak disampaikan. Dan menyampaikannya dengan cara yang tidak biasa: lewat ketenangan.
Fragmen teatrikal yang dibawakan di depan Patung Catur Muka malam itu semakin menegaskan kekuatan narasinya. Penari perempuan yang memerankan Bibi Anu tidak sekadar menari. Ia memanggil perasaan yang sering dibiarkan beku. Ia membuat kita mengingat ibu kita. Atau istri kita. Atau mungkin, sisi dalam diri kita yang ingin menyerah tapi terus bertahan.
Ogoh-ogoh ini tidak hadir sebagai pahlawan. Tidak ada adegan pertempuran besar. Tidak ada gebrakan emosi. Yang ditampilkan adalah keteguhan diam. Dan dari situ, justru terdengar gema yang paling jauh. Karena diam tidak berarti kalah. Diam kadang adalah cara terbaik untuk menunjukkan bahwa seseorang tidak bisa diganggu.
Tak heran bila penonton malam itu banyak yang diam. Bukan karena tidak terkesan. Tapi karena terlalu terkesan. Mungkin karena mereka sedang memikirkan seseorang. Atau memikirkan diri sendiri.
Dan ketika ogoh-ogoh itu perlahan diarak menyusuri jalan kota, tak ada sorak-sorai berlebihan. Tidak ada euforia. Yang ada adalah semacam rasa khidmat. Karena perempuan itu, yang duduk di bawah guyuran air naga, sedang menjaga sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.
Dan ketika ia menatap ke depan, ia seolah bertanya pada kita semua: Apakah kita cukup layak untuk hidup yang sedang ia lindungi?
Maka begitulah. Di malam yang biasa, di kota yang tak lagi sibuk, di antara lampu-lampu dan air mancur, satu ogoh-ogoh berhasil menyampaikan sesuatu yang selama ini sulit diucapkan: bahwa keberanian sejati, sering kali, datang dalam bentuk yang paling diam.[BEKRAF/Abe]