Thu. Apr 3rd, 2025

IGP Rahman Desyanta dan I Putu Yuliartha Tampil dalam Black Swan Summit 2025 di Australia

DUA motor penting dalam Industri Blockchainn di Bali (Indonesia), IGP Rahman Desyanta dan I Putu Yuliartha, tampil sebagai pembicara dalam forum internasional bergengsi Black Swan Summit 2025 yang digelar di Winthrop Hall, University of Western Australia. Forum yang berlangsung pada 25–26 Maret ini menjadi ajang perdana yang mempertemukan para pemikir radikal untuk membahas masa depan teknologi disruptif dan dampaknya terhadap perubahan global.

Black Swan Summit merupakan forum R&D foresight pertama yang secara terbuka menantang pola pikir konvensional. Di dalamnya, berbagai topik penting dibahas, mulai dari perkembangan teknologi Blockchain, Artificial Intelligence (AI), Quantum Computing, hingga Climate Tech. Tujuan utamanya adalah menggali dampak tak terduga dari teknologi baru seperti Web3 dan mendorong peserta untuk tidak hanya beradaptasi, tetapi juga memimpin arah masa depan.

Dalam salah satu sesi kunci bertajuk “A Vision of Accessible, Inclusive Digital Trade”, IGP Rahman Desyanta, CEO Baliola, bersama I Putu Yuliartha, Ketua Harian Badan Kreatif Denpasar, tampil membawakan perspektif Indonesia terkait transformasi digital dalam perdagangan global.

Anta menekankan bahwa teknologi Blockchain dapat menjadi alat penting dalam melindungi serta memperkuat pelaku ekonomi kreatif, khususnya di negara berkembang. Menurutnya, sistem terdesentralisasi yang ditawarkan Blockchain membuka peluang untuk membangun perdagangan yang lebih adil, terbuka, dan terpercaya.

Sementara itu, I Putu Yuliartha, yang akrab disapa Putu Lengkong, menyampaikan pentingnya membangun ekosistem perdagangan digital yang inklusif dan dapat diakses oleh semua pihak. Ia percaya bahwa jika kesenjangan digital terus dibiarkan, negara-negara berkembang akan semakin tertinggal, padahal potensi mereka sangat besar, terutama dalam bidang industri kreatif dan ekonomi digital.

Sesi tersebut juga menghadirkan pembicara internasional seperti Rosie Staude (WTO Digital Trade, Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia), Yuki Aizawa (Direktur Women in Tech APAC), Jeremy Tan (CEO Liquid Group), dan Scott Waller (Blockchain Leader EY Asia Pasific), dengan Steve Vallas dari Blockchain APAC bertindak sebagai moderator.

Diskusi direncanakan akan membahas bagaimana negara-negara di Global South, termasuk Indonesia, dapat merancang model perdagangan digital yang sesuai dengan kesiapan masing-masing, tanpa harus mengikuti standar tunggal dari negara maju. Saat ini, perdagangan antar negara berkembang (South-South trade) telah mencapai 25% dari total perdagangan global, menunjukkan arah baru dalam pola kerja sama ekonomi internasional.

Keterlibatan Anta dan Putu Lengkong dalam forum ini menandai langkah penting bagi Indonesia dalam percaturan digital global. Mereka membawa suara dan kepentingan pelaku ekonomi kreatif Indonesia ke panggung internasional, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam membentuk masa depan perdagangan digital yang lebih inklusif dan berkelanjutan.[BEKRAF/Abe]

By Bekraf

Related Post