Sat. Apr 18th, 2026

Tantangan Domain .bali Beraksara Bali (Catatan untuk Gubernur Koster)

Oleh: Agung Bawantara

Peluncuran Second Level Domain (SLD) .bali beraksara Bali telah dilakukan. Pemerintah Provinsi Bali bersama Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) dengaan bangga meluncurkannya di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Denpasar, Kamis (11/12/2025). Berita ini patut disambut hangat sebagai kabar baik bernilai strategis, bukan hanya bagi kebudayaan Bali, tetapi juga bagi masa depan identitas lokal di ruang digital Indonesia.

Penegasan Gubernur Bali Wayan Koster bahwa aksara Bali adalah identitas kultural yang wajib dimuliakan menempatkan isu aksara pada level yang lebih serius: bukan sekadar simbol warisan masa lalu, melainkan fondasi jati diri yang harus hadir dalam kehidupan kontemporer. Ketika aksara Bali masuk ke sistem penamaan domain internet, ia tidak lagi berdiri di pinggir sejarah, melainkan ikut berjalan di jalur utama peradaban digital.

Langkah ini penting karena selama ini banyak kebudayaan lokal terjebak dalam paradoks: diagungkan dalam seremoni, tetapi terpinggirkan dalam praktik. Aksara Bali kerap dipuji sebagai adiluhung, namun jarang digunakan secara fungsional dalam administrasi, ekonomi, dan teknologi. Dengan masuknya aksara Bali ke infrastruktur digital melalui .bali, ada upaya nyata untuk memutus paradoks tersebut.

Menariknya, Gubernur Koster tidak berhenti pada narasi pelestarian, tetapi mengaitkan langsung penggunaan aksara Bali dengan peluang ekonomi dan lapangan kerja. Contoh korespondensi negara-negara seperti Jepang, China, dan Korea menunjukkan bahwa penggunaan aksara sendiri justru melahirkan kebutuhan baru—mulai dari penerjemah hingga tenaga kreatif. Perspektif ini penting karena memindahkan diskursus budaya dari sekadar “kewajiban moral” menjadi sumber nilai tambah ekonomi.

Pernyataan bahwa aksara Bali menambah estetika dan karakter ruang publik, seperti di Bandara Ngurah Rai, juga relevan dalam konteks branding wilayah. Identitas visual berbasis aksara bukan sekadar ornamen, melainkan penanda otoritas kultural Bali di hadapan dunia. Dalam konteks globalisasi yang cenderung menyeragamkan, kehadiran aksara lokal justru menjadi pembeda yang kuat.

Namun, kritik Gubernur Koster terhadap menurunnya kemampuan generasi muda dalam menulis aksara Bali harus dibaca sebagai alarm serius. Pernyataan kerasnya memang mengundang perdebatan, tetapi substansinya jelas: ada jarak yang makin lebar antara warisan budaya dan kompetensi generasi masa kini. Jika aksara Bali hanya dipelajari sebagai pengetahuan pasif di sekolah, tanpa digunakan dalam praktik digital sehari-hari, maka kehilangan itu akan terus berlanjut.

Di sinilah tantangan terbesar dari peluncuran SLD .bali beraksara Bali. Ia tidak boleh berhenti sebagai tonggak simbolik. Diperlukan langkah lanjutan yang sistematis: penyediaan perangkat digital yang mudah digunakan, integrasi aksara Bali dalam desain, media sosial, konten kreatif, hingga dunia usaha. Tanpa ekosistem pendukung, aksara Bali berisiko hanya menjadi identitas elitis yang hadir di papan nama, tetapi absen di tangan generasi muda.

Meski demikian, sebagai sebuah penanda arah, peluncuran ini layak diapresiasi. Hal itu menegaskan bahwa Bali tidak ingin menjadi penonton dalam arus digital global, melainkan hadir dengan wajahnya sendiri. Aksara Bali yang “go digital” bukan sekadar nostalgia yang dimodernkan, tetapi pernyataan bahwa kearifan lokal memiliki tempat sejajar dengan aksara lain di dunia. []

By Bekraf

Related Post