Sun. Apr 19th, 2026

Ketika Seniman Memproduksi Ruang: Tentang Batubelah Art Space  

Festival Apa Ini Apa Itu (AIAI ) di Batubelah Art Space. (2009) Foto: Dok. I Wayan Sujana, 2009)

 

Oleh Dr. I Wayan Sujana Suklu – Dosen Seni Rupa Institit Seni Indonesia (ISI), Bali

 

Ada satu kesadaran yang pelan-pelan muncul dalam praktik seni kontemporer di Bali: ruang tidak pernah netral. Ia tidak hadir sebagai wadah kosong yang menunggu diisi, melainkan sebagai sesuatu yang telah lebih dulu dibentuk—oleh sejarah, oleh fungsi, oleh relasi kuasa yang bekerja di dalamnya. Bahkan sebelum seorang seniman masuk ke dalamnya, ruang telah membawa beban: kepentingan ekonomi, orientasi budaya, dan cara pandang tertentu tentang apa yang layak ditampilkan.

Dalam konteks Bali hari ini, lapisan itu menjadi semakin kompleks. Adat masih bekerja, dengan struktur dan orientasi kosmologisnya. Pariwisata hadir dengan logika visual dan pengalaman. Modernitas membawa efisiensi dan rasionalitas. Sementara globalisasi seni memperluas referensi sekaligus membuka pasar.

Performans art Daniel Kho di BatubelahArt Space (2010). Foto: dok Suklu

Semua itu tidak berjalan sendiri-sendiri. Ia bertumpuk. Saling bersinggungan. Kadang saling menguatkan, kadang saling mengganggu. Di titik inilah ruang berubah menjadi medan tawar-menawar identitas. Ia bukan lagi sekadar tempat, tetapi arena. Arena di mana posisi terus dirundingkan—antara lokal dan global, antara tradisi dan kontemporer, antara nilai dan representasi.

Dalam situasi seperti ini, seniman tidak lagi cukup hanya memproduksi karya. Karena karya, pada akhirnya, akan selalu berada di dalam ruang yang telah memiliki logika tertentu. Jika ruang itu tidak disadari, maka karya akan ikut terserap ke dalam logika tersebut—baik sebagai komoditas, sebagai dekorasi, atau sebagai representasi yang kehilangan daya kritisnya.

Di titik inilah muncul satu posisi yang tegas: seniman perlu memproduksi ruangnya sendiri. Bukan sekadar membangun tempat, tetapi membentuk kondisi. Ruang untuk berpikir. Ruang untuk gagal. Ruang untuk merundingkan ulang tradisi.

Batubelah Art Space, Klungkung, dapat dibaca dari posisi ini. Ruang seni yang saya dirikan pada 17 Agustus 2007 itu tidak lahir sebagai galeri, tidak pula sebagai institusi. Ia berangkat dari studio sederhana, tempat di mana praktik berlangsung tanpa banyak gangguan. Namun justru dari kesederhanaan itu, sesuatu mulai bergerak.

Bambu dipotong dan dirangkai. Batu padas dipahat. Limbah kaca dikumpulkan, disusun ulang, dan diberi makna baru. Aktivitas yang tampak teknis itu perlahan membentuk sesuatu yang lain: pola kehadiran, pola percakapan, pola keterlibatan. Mahasiswa mulai datang. Seniman lain ikut bekerja. Diskusi terjadi tanpa agenda formal. Ruang itu, tanpa dirancang sebagai ruang sosial, mulai berfungsi sebagai ruang sosial.

Performans DekGeh (2010). Foto: Dokumentasi Suklu

Di sini, pemahaman tentang ruang bergeser. Ia tidak lagi dipahami sebagai sesuatu yang dibangun secara fisik, tetapi sebagai sesuatu yang diproduksi melalui praktik. Ruang lahir dari aktivitas yang berlangsung di dalamnya.

Ketika praktik itu berulang, ia membentuk ritme. Ketika ritme itu melibatkan banyak orang, ia membentuk relasi. Dan ketika relasi itu bertahan, ia membentuk struktur. Batubelah, dalam proses ini, berhenti menjadi studio privat. Ia menjadi ruang yang dialami. Sebuah ruang yang tidak (pernah) selesai, karena ia terus berubah mengikuti praktik yang menghidupinya. []

 

By Bekraf

Related Post