Graha Yowana Suci (GYS), yang dahulu dikenal sebagai Pasar Suci, kini tampil dengan wajah baru sebagai ruang kreatif dan kuliner yang semakin hidup di pusat Kota Denpasar. Setelah bertahun-tahun tidak termanfaatkan secara optimal, gedung ini perlahan berubah menjadi simpul pertemuan anak muda, UMKM, dan beragam kegiatan komunitas. Setiap sore hingga malam, denyut aktivitasnya terasa semakin kuat, menandai kebangkitan ekonomi kreatif di kawasan tersebut.
Aktivitas ekonomi di GYS menunjukkan perkembangan positif seiring terisinya seluruh ruang usaha oleh 28 tenant. Anggota Pokja Pengembangan Ekonomi Kreatif GYS, Agung Eko Dananjaya, Senin (8/12), mengungkapkan bahwa 9 tenant kini menempati lantai 1A, 15 tenant mengisi lantai 1B, dan 4 tenant berada di lantai 2A. Adapun lantai 2B difungsikan sebagai area penyelenggaraan event secara terjadwal.
Menurutnya, mayoritas pengunjung GYS adalah anak muda yang memanfaatkan tempat ini sebagai ruang nongkrong, berdiskusi, atau mengerjakan tugas. Sebagian masyarakat juga datang untuk menikmati makan siang. “Tenant yang ada menawarkan beragam produk, mulai dari kopi, makanan ringan dan berat, rujak, pakaian, hingga buku,” ujar Eko.
Para tenant tidak hanya melayani pengunjung langsung, tetapi juga memanfaatkan platform penjualan makanan daring untuk memperluas jangkauan pasar. Event yang rutin digelar—mulai dari e-sport hingga pertunjukan musik dan peluncuran karya— turut memberi dampak positif bagi sebagian tenant. “Pengaruhnya tergantung jenis event. Ada tenant yang terdampak signifikan, ada juga yang tidak terlalu,” ujarnya.

Kepala Unit Pasar GYS, Anak Agung Ketut Ngurah Suardana, menambahkan bahwa biaya sewa tenant masih digratiskan. Pedagang hanya membayar biaya operasional pedagang (BOP) yang saat ini dikenakan dengan potongan sekitar 50 persen. BOP ditetapkan Rp 40.000 per meter persegi per bulan bagi tenant lantai 1A dan 1B, serta Rp 32.000 per meter persegi per bulan untuk lantai 2A.
Ukuran tenant bervariasi, mulai dari 15 meter persegi dengan estimasi biaya sekitar Rp 600.000 per bulan, hingga ruang terbesar 155,52 meter persegi di lantai 2A dengan estimasi biaya sekitar Rp 4,9 juta per bulan.
Transformasi GYS menjadi Graha Yowana Suci Art and Community Hub sejak Desember 2023 menjadikan kawasan ini sentra UMKM kuliner yang aktif. Setiap hari, terutama menjelang malam, GYS dipadati pengunjung yang datang untuk menikmati suasana, kuliner, dan ragam kegiatan komunitas.
Akses menuju GYS juga sangat mudah. Dari Sentra Park Kuta, pengunjung dapat menuju Jalan Imam Bonjol, berbelok ke Jalan Teuku Umar hingga simpang Diponegoro di depan Level 21 Mall, lalu masuk ke Jalan Diponegoro. GYS berada di pojok kiri persimpangan Jalan Hasanuddin. Dari Kantor Wali Kota Denpasar dan Patung Catur Muka, gedung ini hanya berjarak beberapa ratus meter di sisi barat.

Secara umum keramaian mulai tampak sejak pukul 17.00 Wita. Sebagian datang hanya untuk mengobrol, sebagian lagi mengerjakan pekerjaan menggunakan laptop sambil menikmati minuman dan kudapan.
“Di sini nyamannya kalau malam. Suara bising lalu lintas sudah berkurang,” ujar Wardhana (25), sales sebuah perusahaan komputer.
Cerita serupa diungkapkan Arwan Setiawan (22), mahasiswa senirupa asal Bandung yang tinggal beberapa bulan di Denpasar untuk menyelesaikan tugas akhirnya. Menurutnya, “Sudut kota Denpasar ini sangat asyik hang out sembari mencari inspirasi,” ujarnya.
Kini, GYS ramai hampir setiap hari. Malam hari menjadi puncak aktivitas, didominasi anak muda dan komunitas yang menjadikan tempat ini sebagai ruang berkumpul baru di Denpasar. [bekraf/rls]
