Sun. Apr 19th, 2026

Dari Api ke Pasar Global: Membayangkan Nasib Baru Ogoh-Ogoh Setelah Ngerupuk

 

Oleh IGP Rahman Desyanta – CEO Baliola  & Pendiri Mandala Chain

 

Ada sesuatu yang selalu terasa menggantung setelah malam pengerupukan usai. Jalanan yang sebelumnya penuh oleh gerak, suara, dan energi mendadak kosong. Api telah menyelesaikan perannya. Ogoh-ogoh dibakar. Malam menjadi sunyi. Namun dalam keheningan itu, sesungguhnya ada pertanyaan yang belum pernah benar-benar kita jawab: apakah ogoh-ogoh memang harus berakhir di sana?

Selama ini, kita menerima begitu saja bahwa pembakaran adalah titik akhir. Padahal jika dilihat dari sudut yang berbeda, justru di situlah sebuah peluang besar terbuka. Sebuah peluang yang selama ini belum kita kelola dengan serius.

Di saat ogoh-ogoh hilang secara fisik, dunia di luar sana justru bergerak dengan cara yang sangat berbeda. Hari ini, sebuah desain tidak lagi terikat pada tempat ia lahir. Sebuah ide bisa muncul di satu titik kecil di dunia, diproduksi ribuan kilometer jauhnya, lalu dikonsumsi oleh pasar global dalam waktu yang sangat singkat.

Ekosistem seperti ini telah lama berjalan. Sebuah platform e-commerce global memungkinkan sebuah produk dijual ke seluruh dunia tanpa harus memiliki toko fisik. Di sisi lain, negara-negara seperti China dan India telah menjadi pusat produksi yang mampu mewujudkan desain menjadi produk dalam skala besar dengan efisiensi tinggi. Sementara itu, United States menjadi pasar yang tidak hanya besar, tetapi juga terbiasa mengonsumsi produk berbasis identitas dan cerita. Di dalam sistem ini, sebuah karya tidak berhenti pada penciptaannya. Ia bergerak. Ia berubah bentuk. Ia menemukan kehidupan baru. Ketika melihat pola ini, sulit untuk tidak bertanya: di mana posisi ogoh-ogoh?

Setiap tahun, Bali menghasilkan ratusan karya dengan kualitas visual yang luar biasa. Sosok-sosok dengan ekspresi kuat, detail yang rumit, dan narasi yang berakar pada filosofi yang dalam. Ini bukan sekadar karya seni ritual. Ini adalah bentuk visual yang memiliki daya tarik universal, sesuatu yang bahkan tanpa penjelasan panjang pun bisa memikat perhatian.

Namun semua itu berhenti di satu titik: api. Padahal jika kita berani melihat lebih jauh, ogoh-ogoh memiliki semua elemen untuk masuk ke dalam ekosistem global tadi. Ia memiliki bentuk yang kuat, karakter yang jelas, dan cerita yang bisa diterjemahkan ke dalam berbagai medium. Dalam bahasa ekonomi kreatif, ini adalah bahan mentah dari sebuah Intellectual Property (IP).

Bayangkan jika setelah ngerupuk, ogoh-ogoh tidak hanya tersisa dalam ingatan, tetapi juga hadir dalam bentuk lain. Visualnya diolah menjadi desain yang lebih sederhana, tanpa kehilangan karakter utamanya. Ceritanya dirangkum menjadi narasi yang bisa dipahami oleh publik yang lebih luas. Lalu, melalui sistem produksi global, ia menjadi produk yang bisa diakses oleh siapa saja, di mana saja.

Dalam skenario seperti ini, sebuah ogoh-ogoh yang lahir di sebuah banjar di Bali bisa saja hadir dalam bentuk kaos yang dipakai seseorang di Los Angeles, atau poster yang tergantung di sebuah apartemen di New York. Bukan sebagai benda ritual, tetapi sebagai simbol visual dari sebuah cerita tentang transformasi, tentang kekacauan, tentang upaya manusia untuk menyeimbangkan dirinya.

Tentu, di titik ini kita harus berhati-hati. Tidak semua hal bisa begitu saja diterjemahkan ke dalam pasar. Ada batas antara yang sakral dan yang bisa dikomunikasikan secara lebih luas. Ada konteks yang tidak boleh hilang. Dan ada kepentingan komunitas yang harus tetap dijaga.

Karena itu, yang paling penting bukan sekadar masuk ke dalam sistem global tersebut, tetapi masuk dengan kesadaran. Bahwa ogoh-ogoh bukan sekadar desain yang bisa diperbanyak. Ia adalah karya kolektif yang lahir dari ruang sosial dan spiritual yang spesifik.

Jika dikelola dengan baik, justru di sinilah keseimbangan bisa ditemukan. Ogoh-ogoh tetap menjalankan fungsinya sebagai bagian dari ritual. Ia tetap dibakar, tetap dilepaskan, tetap menjadi bagian dari siklus spiritual yang tidak berubah. Namun di saat yang sama, jejaknya tidak hilang. Ia ditangkap, diarsipkan, dan diberi ruang untuk hidup dalam bentuk lain.

Dalam bentuk inilah nilai ekonomi mulai bekerja. Bukan sebagai pengganti makna, tetapi sebagai kelanjutan dari proses kreatif itu sendiri.

Dengan cara ini, anak-anak muda yang membuat ogoh-ogoh tidak hanya dikenal karena karyanya semalam, tetapi juga mendapatkan peluang yang lebih panjang. Banjar tidak hanya menjadi tempat produksi, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem yang lebih luas. Dan Bali tidak hanya dikenal karena perayaannya, tetapi juga karena kemampuannya mengelola nilai dari budaya yang dimilikinya. []

 

By Bekraf

Related Post