Di tengah semakin berkembangnya industri kreatif dan digital di Bali, kebutuhan untuk menyatukan berbagai kekuatan kreatif mulai dirasakan semakin penting. Selama ini, banyak komunitas, organisasi, dan pelaku ekonomi kreatif di Bali bergerak aktif di bidangnya masing-masing, namun sering berjalan sendiri-sendiri. Padahal, Bali memiliki potensi besar karena hampir seluruh subsektor ekonomi kreatif tumbuh hidup di Pulau Dewata. Dari kondisi itulah muncul kesadaran untuk menghadirkan satu rumah bersama yang mampu memperkuat kolaborasi, memperbesar posisi tawar, sekaligus menyatukan arah pengembangan ekonomi kreatif Bali ke depan.
Kesadaran tersebut melahirkan Bali Creative Board (BCB), sebuah organisasi payung yang resmi dibentuk untuk menghimpun pelaku ekonomi kreatif dan digital di Bali. Organisasi ini hadir sebagai langkah strategis untuk memperkuat sinergi antarorganisasi sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih luas bagi pengembangan ekosistem ekonomi kreatif di Pulau Dewata.
Pembentukan BCB melibatkan 27 hingga 28 organisasi, perusahaan, komunitas, dan asosiasi pelaku ekonomi kreatif yang selama ini bergerak di berbagai subsektor industri kreatif di Bali. Mereka sepakat hadir dalam satu wadah bersama guna membangun ekosistem kreatif yang lebih sehat, inklusif, dan berkelanjutan.
Kesepakatan tersebut lahir melalui musyawarah terbuka yang berlangsung di Ruang Rapat Etna, Kantor Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Kamis (21/5/2026). Dalam forum yang berlangsung penuh semangat kebersamaan itu, seluruh peserta membahas arah organisasi sekaligus menentukan figur yang dipercaya memimpin Bali Creative Board pada fase awal pembentukannya.
Hasil musyawarah menetapkan Dr. I Made Artana, S.Kom., M.M., sebagai Ketua Umum Bali Creative Board. Sosok yang juga menjabat sebagai Rektor Primakara University tersebut memperoleh dukungan dari berbagai pimpinan organisasi dan komunitas ekonomi kreatif yang hadir dalam deklarasi pembentukan BCB.
Dalam kesempatan tersebut, Made Artana menegaskan bahwa Bali Creative Board dibentuk bukan untuk menggantikan organisasi-organisasi yang sudah ada, melainkan memperkuatnya dalam satu payung bersama. Menurutnya, selama ini banyak komunitas dan organisasi kreatif di Bali telah bergerak aktif, namun masih berjalan sendiri-sendiri sehingga membutuhkan wadah kolektif yang mampu memperbesar posisi tawar dan memperkuat representasi sektor ekonomi kreatif Bali.
“Semangatnya adalah satu payung, satu suara, satu kekuatan. BCB bukan dibentuk untuk menggantikan organisasi-organisasi yang sudah ada, tetapi justru untuk memperkuatnya,” ujar Made Artana.
Ia menjelaskan, Bali memiliki modal besar berupa daya kreativitas masyarakat yang tumbuh dari akar budaya dan tradisi yang kuat. Karena itu, ekonomi kreatif dan digital dipandang perlu tumbuh lebih terorganisir agar mampu menjadi salah satu pilar penting perekonomian Bali di masa depan.
BCB sendiri dibangun dengan semangat kolaborasi hexahelix yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, media, komunitas, hingga berbagai pemangku kepentingan lainnya. Organisasi ini juga ditegaskan sebagai lembaga swasta independen yang tidak terafiliasi dengan kepentingan politik tertentu.
Ke depan, Bali Creative Board diharapkan mampu menjadi motor penggerak pengembangan ekosistem ekonomi kreatif dan digital Bali melalui berbagai program strategis seperti peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pengembangan jejaring usaha, pembukaan akses pasar dan pendanaan, hingga memperkuat posisi pelaku ekonomi kreatif dalam berbagai kebijakan daerah maupun nasional.
