Di tengah laju pembangunan yang terus bergerak cepat, Bali mulai menghadapi pertanyaan penting tentang masa depannya: bagaimana menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kebutuhan ruang hidup, dan keberlanjutan lingkungan? Pulau dengan luas wilayah yang terbatas ini kini menghadapi tekanan yang semakin besar akibat pertumbuhan hunian, akomodasi wisata, kawasan komersial, hingga infrastruktur penunjang pariwisata. Dalam situasi seperti itu, konsep green building atau bangunan berkelanjutan mulai dipandang bukan sekadar tren arsitektur modern, melainkan kebutuhan mendesak untuk menjaga kualitas hidup Bali dalam jangka panjang.
Perspektif itulah yang mengemuka dalam Forum Bisnis Daerah (FORBISDA) 2026 yang digelar Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Bali di Aula Sri Ajnadewi Gedung G2 Lantai 5 Fakultas Teknik dan Perencanaan Universitas Warmadewa, Denpasar, Sabtu (16/5/2026). Mengusung tema “Sustainable Green Building: Membangun Kolaborasi Arsitek dan Pengusaha Muda untuk Masa Depan Berkelanjutan”, forum ini mempertemukan kalangan arsitek, pengusaha muda, akademisi, hingga stakeholder pembangunan untuk mendiskusikan arah pembangunan Bali yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan tetap berpijak pada karakter lokal.
Ketua BPD HIPMI Bali, Agung Bagus Pratiksa Linggih, menilai Bali tidak bisa lagi memandang pembangunan semata dari sisi pertumbuhan investasi dan jumlah proyek fisik. Menurutnya, pembangunan masa depan harus mulai memperhitungkan daya dukung lingkungan dan keterbatasan ruang Bali.
“Bali sangat perlu penerapan sustainable green building ke depan. Jangan sampai luas wilayah Bali yang terbatas menjadi korban dari pembangunan hunian maupun akomodasi yang terlalu masif,” ujarnya.
Pria yang akrab disapa Ajus itu menjelaskan bahwa konsep green building bukan hanya berkaitan dengan penggunaan tanaman atau tampilan bangunan modern, tetapi menyangkut cara membangun yang lebih hemat energi, lebih sehat, lebih efisien dalam penggunaan air dan material, serta lebih sensitif terhadap lingkungan sekitar.
Dalam konteks Bali, gagasan tersebut menjadi semakin penting karena pembangunan tidak hanya menyangkut ekonomi, tetapi juga menyentuh persoalan budaya dan identitas ruang.
Karena itu, HIPMI Bali dalam FORBISDA 2026 menggandeng Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Provinsi Bali untuk membangun dialog antara dunia usaha dan dunia arsitektur. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu melahirkan generasi pengusaha baru di bidang arsitektur dan konstruksi yang tetap memahami karakter Bali.
“Kami ingin lahir pengusaha-pengusaha baru dari dunia arsitektur. Arsitektur Bali jangan hanya berkembang di internal Bali, tapi juga bisa dibawa keluar Bali,” kata Ajus.
Selain seminar bisnis dan arsitektur, kegiatan ini juga menghadirkan business matching, expo tenant, networking, hingga pemberian penghargaan kepada pemenang kompetisi business plan dan sayembara desain fasad Sekretariat HIPMI Bali. Dalam forum tersebut juga dilakukan penandatanganan nota kesepahaman antara BPD HIPMI Bali dan Universitas Warmadewa sebagai bentuk komitmen bersama dalam pengembangan pembangunan berbasis green building di Bali.
Tokoh arsitektur Bali yang juga Ketua Harian Badan Kreatif Denpasar, Ari Setiya Wibawa atau Ari SW, menilai bahwa pembangunan berkelanjutan harus dipahami sebagai perubahan cara berpikir, bukan sekadar perubahan tampilan bangunan. Menurutnya, Bali sebenarnya memiliki modal budaya yang sangat dekat dengan prinsip sustainability. Banyak konsep arsitektur tradisional Bali sejak lama telah memperhatikan sirkulasi udara, pencahayaan alami, hubungan ruang dengan alam, hingga keseimbangan antara manusia dan lingkungan.
“Green building bukan sekadar soal bangunan hemat energi. Ini tentang cara berpikir baru dalam melihat hubungan manusia, ruang, lingkungan, dan masa depan. Karena itu kolaborasi antara arsitek dan pengusaha muda menjadi sangat penting untuk menciptakan ekosistem pembangunan yang lebih sehat dan berkelanjutan,” ujar Ari SW.
Ia menambahkan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah menerjemahkan nilai-nilai lokal tersebut ke dalam pembangunan modern tanpa kehilangan ruh budaya Bali.
“Bali memiliki kearifan lokal yang sebenarnya sangat dekat dengan prinsip sustainability. Tantangannya adalah bagaimana nilai-nilai itu diterjemahkan ke dalam pembangunan modern tanpa kehilangan ruh budaya dan ekologinya,” tambahnya.
FORBISDA 2026 juga menyoroti bagaimana situasi global yang penuh ketidakpastian justru dapat menjadi momentum bagi Bali untuk memperkuat diri sebagai kawasan yang aman, nyaman, dan berkualitas untuk dihuni maupun dikunjungi. Dalam konteks itu, pembangunan berkelanjutan dipandang bukan lagi sekadar isu lingkungan, tetapi bagian dari strategi menjaga daya saing Bali di masa depan.
Bagi HIPMI Bali, tantangan terbesar bukan hanya menghadirkan investasi baru, tetapi memastikan bahwa pembangunan yang terjadi tetap memberi ruang bagi lingkungan, budaya, dan masyarakat lokal agar tidak menjadi penonton di daerahnya sendiri. [Bekraf/Rls]
