Pemerintah Republik Indonesia kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu pemain penting dalam pengembangan ekonomi kreatif global melalui penyelenggaraan World Conference on Creative Economy 2026 atau WCCE 2026. Ajang internasional yang akan berlangsung di JIExpo Kemayoran, Jakarta, pada 21–23 Oktober 2026 ini tidak hanya menjadi forum diskusi antarnegara, tetapi juga ruang konkret bagi pelaku industri kreatif untuk membangun jejaring, memperluas pasar, dan memperkuat ekosistem ekonomi kreatif dunia.
Dalam konferensi pers di Jakarta, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menegaskan bahwa WCCE 2026 mengusung semangat ekonomi kreatif yang inklusif dan berkelanjutan. Tahun ini, konferensi mengangkat tema Collective Continuity, sebuah pendekatan yang menekankan pentingnya kesinambungan ekosistem ekonomi kreatif melalui kolaborasi lintas sektor dan lintas negara.
Menurut Riefky, ekonomi kreatif tidak lagi dapat dipandang sebagai sektor pinggiran, melainkan mesin pertumbuhan ekonomi baru dunia. Karena itu, WCCE diarahkan menjadi platform global untuk memperjuangkan kebijakan ekonomi kreatif di tingkat internasional.
“WCCE menegaskan bahwa ekonomi kreatif bersifat inklusif melampaui batas geografis, gender, dan strata ekonomi,” ujar Riefky. Ia menambahkan bahwa konferensi ini juga berfungsi sebagai ruang agenda setting kebijakan ekonomi kreatif global.
WCCE 2026 diperkirakan akan dihadiri sekitar 80 negara dan mendapat dukungan dari dua organisasi besar Perserikatan Bangsa-Bangsa, yakni UN Trade and Development dan World Intellectual Property Organization. Pemerintah Indonesia juga mendorong lahirnya “Jakarta Vision for Creative Economy” yang ditargetkan menjadi bagian dari pembahasan kebijakan ekonomi kreatif global di sidang PBB tahun 2027.
Creative Village
Salah satu elemen penting dalam rangkaian WCCE 2026 adalah Creative Village, sebuah ruang interaktif yang dirancang untuk mempertemukan kreator, investor, brand, pemerintah, dan publik dalam satu ekosistem kreatif yang hidup.
Menurut Menteri Ekonomi Kreatif, Creative Village bukan sekadar area pameran, tetapi ruang kolaborasi nyata yang memungkinkan pelaku ekonomi kreatif dari berbagai negara menunjukkan karya, memperluas koneksi, dan membuka peluang bisnis lintas negara.
“Integrasi ini menjadikan Creative Village sebagai ekosistem interaktif, penghubung inovasi digital, dan menampilkan kekuatan IP Indonesia,” kata Riefky.
Di dalam Creative Village nantinya akan hadir berbagai platform kreatif yang mewakili perkembangan industri kreatif kontemporer Indonesia, mulai dari film, gim, konten digital, fashion, musik, hingga budaya pop.
Salah satu program utama dalam Creative Village adalah Screenverse yang digagas oleh Dyandra Event Solutions. Platform ini akan menghadirkan ekosistem perfilman, gim, streaming, dan konten digital dalam satu ruang kolaboratif.
Project Manager Screenverse, Indra Girnadi, menjelaskan bahwa platform tersebut dirancang bukan hanya untuk mempertemukan pelaku industri, tetapi juga mempercepat proses komersialisasi ide kreatif dan pengembangan kekayaan intelektual Indonesia.
“Suatu platform di mana creators bisa mempresentasikan ide, investor bisa menemukan IP yang scalable, brand bisa berkolaborasi dengan cerita, pemerintah bisa mempercepat ekonomi kreatif, dan audiens bisa terlibat langsung dengan konten,” ujarnya.
Pendekatan ini menunjukkan bagaimana ekonomi kreatif kini bergerak jauh melampaui sekadar produksi karya seni. Industri kreatif mulai diposisikan sebagai ekosistem ekonomi berbasis kekayaan intelektual yang memiliki nilai investasi, potensi ekspor, dan dampak ekonomi luas.
Upaya Monetisasi IP Kreatif Indonesia
Selain Screenverse, WCCE 2026 juga menghadirkan Kult Kreo yang akan berlangsung di JIExpo selama 21–24 Oktober 2026. Acara ini dirancang untuk mendorong eksplorasi dan monetisasi kekayaan intelektual di sektor fashion, musik, dan budaya pop. Lebih dari 120 jenama dijadwalkan berpartisipasi dalam Kult Kreo. Platform ini diharapkan menjadi ruang strategis bagi para kreator lokal untuk memperkuat jejaring, membangun kolaborasi bisnis, dan memperluas eksposur internasional.
Project Manager Kult Kreo dari Dayakrea Mega Pradana, Geraldine Nadia, mengatakan bahwa acara tersebut bertujuan mempercepat pertumbuhan IP kreatif Indonesia melalui pembangunan ekosistem kolaboratif.
“Bagi para partisipan ini artinya akses ke partnership, exposure, dan peluang bisnis nyata, termasuk kesempatan dilihat secara internasional di WCCE,” katanya.
WCCE pertama kali diselenggarakan di Bali pada tahun 2018. Saat itu, Indonesia mulai memperkenalkan gagasan bahwa ekonomi kreatif dapat menjadi salah satu fondasi pembangunan masa depan. Kini, delapan tahun kemudian, Jakarta dipilih sebagai tuan rumah WCCE 2026 dengan misi yang lebih luas: memperkuat posisi Jakarta sebagai kota global sekaligus menjadikan ekonomi kreatif sebagai bagian penting dari diplomasi internasional Indonesia.
Pemerintah menempatkan WCCE sebagai agenda prioritas nasional yang tercantum dalam RPJMN pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi kreatif tidak lagi dipandang sekadar sektor budaya, tetapi telah menjadi strategi pembangunan jangka panjang Indonesia.
Dengan dukungan lintas kementerian, pelaku industri, komunitas kreatif, dan organisasi internasional, WCCE 2026 diproyeksikan menjadi salah satu forum ekonomi kreatif terbesar di dunia tahun depan.
“Harapannya dengan ini kita dapat mengatasi tantangan bersama, mengeksplorasi solusi, dan membentuk masa depan ekonomi kreatif yang inklusif dan berkelanjutan,” kata Riefky. [Bekraf/rls]
