Oleh Dr. I Wayan Sujana Suklu – Dosen Seni Rupa Institit Seni Indonesia (ISI), Bali
Tulisan ini (lagi-lagi) berangkat dari pengalaman empirik Batubelah Art Space, Klungkung. Sebuah perubahan dari studio menjadi ruang sosial yang tidak terjadi melalui desain besar atau rencana institusional. Ia tumbuh dari sesuatu yang lebih sederhana: praktik yang diulang.
Di dalamnya, tidak ada pemisahan yang tegas antara kerja, belajar, dan berdiskusi. Semua berlangsung dalam satu alur yang sama. Karya diproduksi, tetapi pada saat yang sama pengetahuan juga ditransmisikan. Percakapan muncul di sela-sela kerja. Kolaborasi terjadi tanpa harus dirancang sebagai proyek formal. Dari situ terbentuk apa yang dapat disebut sebagai ekosistem.
Ekosistem bukan sekadar kumpulan aktivitas, tetapi relasi yang saling menghidupi. Ada produksi karya, ada pembelajaran, ada pertukaran gagasan, ada jejaring yang tumbuh. Tidak ada hierarki yang kaku, dan tidak ada jarak yang jelas antara proses dan presentasi. Yang ada adalah sirkulasi praktik. Dalam konteks ini, posisi seniman juga bergeser. Ia tidak lagi hanya menjadi produsen objek estetik, tetapi juga produsen kondisi—menciptakan ruang agar praktik bersama dapat terjadi.

Salah satu cara Batubelah menunjukkan posisi ini adalah melalui material. Bambu, batu padas, limbah kaca, dan logam tidak dipilih secara kebetulan. Mereka adalah bagian dari keseharian. Bambu tumbuh di sekitar. Batu padas adalah bagian dari tradisi pahat yang panjang. Limbah adalah konsekuensi dari pola konsumsi yang semakin meningkat.
Material, dalam hal ini, bukan hanya medium, tetapi juga cara membaca lingkungan. Bambu menawarkan fleksibilitas dan kemungkinan bentuk yang terus berubah. Batu padas membawa resistensi sekaligus memori. Limbah membuka ruang refleksi—bahwa sesuatu yang dibuang dapat kembali dihadirkan dalam bentuk yang lain.
Di titik ini, material menjadi sikap. Ia menunjukkan bagaimana seniman menempatkan dirinya di dalam relasi antara alam, masyarakat, dan sistem ekonomi yang lebih luas.
Selain material, tubuh juga memainkan peran penting. Ruang di Batubelah tidak dibentuk melalui perhitungan abstrak, tetapi melalui pengalaman langsung. Jarak diukur dari langkah. Skala ditentukan oleh jangkauan tangan. Komposisi muncul dari interaksi antara tubuh dan material.
Pengetahuan lahir dari praktik yang berulang. Tubuh tidak hanya menjadi alat kerja, tetapi juga alat memahami ruang. Di sisi lain, terdapat kesadaran bahwa ruang tidak berdiri sendiri. Ia selalu terhubung dengan konteks yang lebih luas. Karena itu, praktik kerja sering diawali dengan gestur sederhana—bukan sebagai formalitas, tetapi sebagai bentuk pengakuan bahwa ruang memiliki relasi dengan lingkungan sosial dan spiritual.

Hal-hal kecil ini membentuk etika. Dan etika inilah yang menjaga agar ruang tidak jatuh sepenuhnya ke dalam logika utilitarian atau komersial. Dalam konteks yang lebih luas, Batubelah juga menunjukkan bagaimana desa dapat dipahami sebagai ruang produksi pengetahuan.
Pengetahuan tidak hanya hadir dalam bentuk teori, tetapi dalam praktik sehari-hari: cara bekerja, cara berinteraksi, cara menjaga keseimbangan dengan lingkungan. Di sini, desa bukan sekadar latar, tetapi laboratorium. Tempat di mana pengetahuan lokal dan praktik kontemporer bertemu, saling menguji, dan saling memperkaya.
Jadi, Batubelah Art Space, bukan hanya tentang seni. Ia adalah cara memahami bagaimana ruang diproduksi, bagaimana relasi dibangun, dan bagaimana pengetahuan tumbuh dari praktik. Ia bukan sesuatu yang selesai. Ia adalah proses yang terus berlangsung.[]
