Wed. Mar 4th, 2026

Bangunan Kita Sedang Bermasalah, Industri Konstruksi Harus Berubah

Tampak menarik, tetapi desainnya tidak sistemik dan berpotensi bermasalah. Foto: Ilustrasi


Oleh: Ari SW
– Arsitek, Kandidat Doktor, Pegiat Gerakan Ekonomi Kreatif dan Keberlanjutan

Indonesia sedang bergerak cepat. Kota-kota tumbuh, kawasan baru bermunculan, hunian vertikal menjulang di berbagai sudut metropolitan. Pertumbuhan ini sering dipahami sebagai tanda kemajuan semisal ekonomi bergerak, investasi masuk, lapangan kerja terbuka. Namun di balik geliat pembangunan itu, ada persoalan mendasar yang jarang dibicarakan secara sistemik: bangunan kita sedang bermasalah.

Urbanisasi yang cepat selalu membawa konsekuensi. Kepadatan meningkat, ruang terbuka menyusut, dan tekanan terhadap sumber daya alam semakin besar. Dalam konteks ini, bangunan menjadi salah satu faktor dominan yang memengaruhi kualitas lingkungan.

Konsumsi energi bangunan terus meningkat. Pendingin udara bekerja hampir tanpa henti di iklim tropis. Sistem pencahayaan dan peralatan elektronik menyedot daya setiap hari. Di saat yang sama, penggunaan air sering kali tidak terkendali. Banyak bangunan tidak dirancang dengan strategi konservasi yang memadai, sehingga pemborosan menjadi hal yang dianggap wajar.

Belum lagi limbah konstruksi yang jumlahnya masif. Material sisa, puing pembongkaran, dan produk bangunan yang tidak dirancang untuk siklus pakai ulang menambah beban lingkungan. Di dalam bangunan, kualitas udara sering diabaikan. Ventilasi yang buruk, material beremisi tinggi, dan pencahayaan yang tidak tepat berdampak langsung pada kesehatan penghuni. Di luar bangunan, kawasan-kawasan baru kerap tidak ramah pejalan kaki, minim konektivitas, dan bergantung pada kendaraan bermotor.

Secara keseluruhan, sektor bangunan menyumbang porsi signifikan terhadap konsumsi energi nasional dan emisi karbon. Ironisnya, sebagian besar bangunan masih dirancang tanpa kerangka keberlanjutan yang terukur. Kita membangun cepat, tetapi belum tentu membangun dengan bijak.

Bangunan Sebagai Sistem, Bukan Sekadar Objek
Salah satu akar persoalan terletak pada cara pandang. Selama ini, bangunan sering diperlakukan sebagai produk akhir: berdiri, selesai, lalu digunakan. Padahal, bangunan adalah sistem hidup yang beroperasi setiap hari.

Ia mengonsumsi energi secara terus-menerus. Ia menggunakan air. Ia menghasilkan limbah. Ia memengaruhi suhu lingkungan sekitarnya. Ia menentukan kualitas udara yang dihirup penghuninya. Setiap keputusan desain seperti orientasi bangunan, pemilihan material, sistem mekanikal, hingga tata ruang, akan berdampak dalam jangka panjang.

Namun dalam praktiknya, banyak keputusan desain masih didorong oleh pertimbangan biaya awal. Harga konstruksi ditekan serendah mungkin, tanpa memperhitungkan biaya siklus hidup (life cycle cost). Akibatnya, pengeluaran energi dan biaya operasional membengkak bertahun-tahun setelah bangunan difungsikan. Dampaknya tidak langsung terlihat, tetapi terakumulasi perlahan.

Bangunan yang seharusnya menjadi solusi bagi kebutuhan ruang justru berpotensi menjadi beban ekologis dan finansial dalam jangka panjang.

Ketiadaan Alat Ukur
Masalah terbesar sebenarnya bukan sekadar kurangnya niat baik. Banyak arsitek, pengembang, dan pemilik bangunan memiliki kesadaran akan pentingnya keberlanjutan. Namun kesadaran saja tidak cukup tanpa sistem pengukuran yang jelas.

Hari ini, tidak sedikit proyek yang mengklaim diri sebagai “ramah lingkungan”. Istilah tersebut sering digunakan dalam materi promosi, tetapi tanpa indikator yang terverifikasi. Tanpa standar yang baku, klaim keberlanjutan menjadi relatif dan sulit dibuktikan.

Di sinilah problem utama industri konstruksi Indonesia: belum adanya standar nasional yang kuat dan kontekstual untuk mengukur keberlanjutan bangunan secara sistematis. Tanpa alat ukur, kita tidak tahu sejauh mana performa bangunan terhadap energi, air, material, maupun kesehatan ruang dalam.

Jika sesuatu tidak bisa diukur, ia sulit dikelola. Dan jika tidak dikelola, ia sulit diperbaiki.

Persoalan ini tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan parsial atau sekadar tren desain. Ia membutuhkan jawaban struktural—sebuah sistem yang mampu mengubah cara kita merancang, membangun, dan mengoperasikan bangunan di Indonesia.

(Bersambung ke Seri II)

 

By Bekraf

Related Post