Perayaan Hari Ulang Tahun ke-238 Kota Denpasar tahun ini menghadirkan satu pesan yang lebih dalam dari sekadar seremoni: kota ini sedang menata ulang cara berpikirnya tentang teknologi. Denpasar Teknologi Informasi dan Komunikasi (D’Tik) Festival 2026 bukan hanya pameran TIK. Ia adalah panggung uji coba bagaimana Artificial Intelligence (AI), data, dan kolaborasi komunitas dapat membentuk tata kelola kota yang lebih cerdas dan berkelanjutan.
Festival yang digelar 27 Februari hingga 1 Maret 2026 di Lapangan Lumintang dan Gedung Dharma Negara Alaya (DNA) ini mempertemukan 34 pameran teknologi. Dua puluh stan berasal dari startup, komunitas, dan perguruan tinggi. Empat belas lainnya menampilkan inovasi digital dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD), dengan fokus kuat pada green technology.
Di balik angka-angka itu, tersimpan pertanyaan penting: bagaimana AI dapat bekerja untuk kota?
Salah satu narasi paling kuat dalam D’Tik Festival 2026 adalah pengelolaan sampah berbasis sumber. Kolaborasi dengan komunitas Eling Ring Pertiwi—yang terdiri dari 18 komunitas peduli sampah—menunjukkan bahwa transformasi digital tidak selalu berarti robot dan algoritma kompleks. Ia bisa dimulai dari sistem informasi yang presisi.
Model pengelolaan sampah festival ini menerapkan dua Waste Department sebagai pusat komando dan enam station pemilahan dengan tujuh kategori sampah. Pendekatan ini pada dasarnya adalah sistem manajemen berbasis data: klasifikasi, distribusi, kontrol, dan pelaporan.
Di titik inilah AI relevan. Dengan integrasi sensor, pencatatan digital, dan dashboard analitik, pengelolaan sampah bisa bertransformasi menjadi sistem prediktif. AI dapat membaca pola timbulan sampah berdasarkan jam kunjungan, jenis kegiatan, hingga cuaca. Dari sana, sistem dapat memperkirakan kebutuhan relawan, kapasitas teba modern, serta alur distribusi ke bank sampah.
Ketua Koordinator Eling Ring Pertiwi, Anak Agung Ngurah Srijaya Widiada, optimistis dengan skala festival sekitar 5.000 orang. Sebelumnya, mereka berhasil mengelola sampah 75.000 pengunjung Denpasar Festival tanpa berakhir di TPA. Secara manajerial, ini adalah basis data yang sangat berharga. Jika didigitalisasi, Denpasar memiliki dataset perilaku lingkungan yang bisa menjadi model nasional.
AI sebagai Instrumen Edukasi Publik
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Kota Denpasar, Gde Wirakusuma Wahyudi, menekankan pentingnya keterlibatan pelajar dalam pengelolaan sampah festival. Pendekatan ini membuka peluang baru: AI sebagai medium literasi lingkungan.
Bayangkan sistem aplikasi sederhana berbasis AI yang membantu rumah tangga memilah sampah melalui visual recognition. Warga cukup memotret jenis sampah, dan sistem memberi rekomendasi kategori serta lokasi bank sampah terdekat. Teknologi seperti ini bukan lagi futuristik. Ia sudah tersedia dan tinggal diintegrasikan ke konteks lokal.
Saat ini, berdasarkan survei, sekitar 30 persen masyarakat Denpasar telah melakukan pemilahan sampah. Dengan pendekatan berbasis AI dan gamifikasi digital, angka tersebut dapat ditingkatkan melalui sistem insentif berbasis data—misalnya poin, reward UMKM, atau akses prioritas layanan publik.
Di sinilah D’Tik Festival menjadi laboratorium kota cerdas.
D’Tik Festival 2026 juga menghadirkan Lomba Video Drone yang membandingkan kondisi sungai ideal dengan kondisi aktual. Jika dikembangkan lebih lanjut, ini bukan sekadar lomba kreatif, melainkan fondasi sistem monitoring berbasis computer vision.
AI mampu menganalisis citra udara untuk mendeteksi sedimentasi, penyempitan alur sungai, tumpukan sampah, atau perubahan vegetasi. Data visual ini dapat diproses menjadi peta risiko banjir dan rekomendasi intervensi.
Dengan 27 peserta dari 43 desa/kelurahan dalam lomba video pengelolaan sampah, Denpasar sebenarnya sedang membangun crowdsourced data environment. Jika dikurasi dengan algoritma yang tepat, partisipasi warga dapat menjadi sumber intelijen kota.
Sebanyak 20 stan dari startup, komunitas, dan perguruan tinggi menandai tumbuhnya ekosistem inovasi digital di Denpasar. Fokus pada green technology menunjukkan arah kebijakan yang semakin kontekstual: teknologi harus menjawab isu lokal.
AI dalam konteks ini tidak selalu berarti deep learning berskala besar. Ia bisa berupa: (1) Sistem rekomendasi energi untuk UMKM, (2) Analitik konsumsi air untuk gedung publik, (3) Chatbot layanan publik berbasis NLP, dan (4) Sistem manajemen event berbasis predictive analytics.
Dengan anggaran APBD sebesar Rp 458.560.000, D’Tik Festival 2026 menunjukkan bahwa investasi pada ruang kolaborasi digital tidak harus mahal untuk berdampak.
Menariknya, festival ini tetap mengintegrasikan Parade Ngelawar, pameran IKM Gema Tridatu, hingga seminar sosial seperti pemutaran film “Stop Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak Perempuan”. Ini menunjukkan bahwa AI di Denpasar tidak berdiri terpisah dari budaya.
Model kota cerdas Denpasar berpotensi unik: AI tidak sekadar efisiensi, tetapi juga penguatan nilai lokal. Sistem data dapat mendukung pengarsipan budaya, pengelolaan event adat, hingga perencanaan ruang publik berbasis kebutuhan komunitas.
Denpasar memiliki modal sosial kuat—komunitas, banjar, sekolah, UMKM. Jika infrastruktur digital dan AI diarahkan untuk memperkuat ekosistem ini, maka transformasi yang terjadi bukan sekadar digitalisasi, melainkan re-desain tata kelola kota.
Dari Festival ke Infrastruktur Permanen
Tantangan terbesar D’Tik Festival bukan pada penyelenggaraannya, tetapi pada keberlanjutan pasca-event. Apakah data yang terkumpul akan diolah? Apakah kolaborasi startup dan OPD akan berlanjut? Apakah sistem pengelolaan sampah festival dapat direplikasi di tingkat kelurahan?
AI tidak membutuhkan panggung besar. Ia membutuhkan konsistensi sistem.
Jika D’Tik Festival 2026 diposisikan sebagai prototipe, maka langkah berikutnya adalah membangun: (1) Dashboard Kota Denpasar berbasis data real-time, (2) Integrasi AI dalam pengelolaan sampah dan lingkungan, (3) Inkubasi startup green-tech lokal, (4) Literasi AI untuk pelajar dan komunitas.
Di usia ke-238, Denpasar tidak hanya merayakan sejarahnya. Ia sedang merancang arsitektur masa depannya—di mana teknologi, budaya, dan partisipasi warga bertemu dalam satu ekosistem cerdas.
Dan di tengah itu semua, AI bukan tujuan. Ia adalah alat. Alat untuk memastikan bahwa kota tumbuh tanpa meninggalkan akal sehat ekologis dan solidaritas sosialnya. [Bekraf/red]
