Pendidikan tidak lagi hanya berbicara soal ruang kelas, nilai ujian, atau capaian akademik. Dalam beberapa tahun terakhir, muncul kesadaran baru bahwa sekolah juga harus menjadi ruang yang sehat secara fisik, mental, sosial, dan ekologis. Dalam konteks inilah pelaksanaan Denpasar Education Festival (DEF) 2026 menjadi menarik untuk dicermati.
Melalui tema “Edu-Green Menuju Sekolah Sehat”, Pemerintah Kota Denpasar tampaknya ingin menunjukkan bahwa pendidikan masa depan tidak cukup dibangun dengan pendekatan administratif semata, melainkan juga melalui budaya hidup yang lebih sadar lingkungan, sehat, kreatif, dan berkelanjutan.
Pembukaan DEF 2026 yang ditandai pelepasan burung oleh Wakil Wali Kota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, bukan sekadar seremoni simbolik. Pelepasan burung membawa pesan tentang kebebasan, harmoni, dan hubungan manusia dengan lingkungan hidup. Simbol ini terasa sejalan dengan arah besar festival yang ingin membangun ekosistem pendidikan yang lebih hijau dan manusiawi.
Yang paling mencuri perhatian tentu pelaksanaan Rekor MURI Yoga Asana yang melibatkan 238 sekolah dan 12.971 siswa. Angka ini bukan hanya menunjukkan skala kegiatan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana yoga mulai diposisikan kembali sebagai bagian dari kultur pendidikan di Denpasar. Setelah sempat terhenti akibat pandemi Covid-19, yoga kini dihidupkan lagi bukan sekadar sebagai aktivitas olahraga, melainkan sebagai pendekatan kesehatan holistik.
Langkah ini menarik karena dunia pendidikan modern memang sedang menghadapi tantangan besar terkait kesehatan mental anak-anak. Tekanan akademik, ketergantungan gawai, minimnya aktivitas fisik, hingga kecemasan sosial menjadi persoalan yang semakin nyata di banyak kota. Dalam situasi seperti itu, mengembalikan yoga ke lingkungan sekolah dapat dibaca sebagai upaya membangun keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan ketenangan batin.
Apa yang dilakukan Disdikpora Denpasar juga menunjukkan bahwa pendidikan berbasis budaya lokal masih memiliki relevansi kuat. Yoga, dalam konteks Bali, bukan sesuatu yang asing atau artifisial. Ia memiliki akar panjang dalam tradisi spiritual dan filosofi hidup masyarakat. Ketika diperkenalkan kembali kepada anak-anak sekolah, yoga tidak hanya menjadi aktivitas fisik, tetapi juga sarana memperkenalkan nilai kesadaran diri, disiplin, dan harmoni.
Peluncuran Senam Vasudaiva Kutumbakam juga memperlihatkan upaya membangun identitas pendidikan khas Denpasar. Istilah “Vasudaiva Kutumbakam” yang berarti “kita semua bersaudara” mengandung pesan universal tentang kemanusiaan dan kebersamaan. Jika dikembangkan secara konsisten, senam ini berpotensi menjadi bagian dari identitas budaya pendidikan Kota Denpasar, seperti halnya beberapa daerah memiliki lagu, salam, atau gerakan khas yang melekat dalam kehidupan sekolah.
Menariknya, DEF 2026 tidak berhenti pada aspek kesehatan dan simbol budaya. Festival ini juga memberi ruang besar bagi kreativitas dan inovasi siswa. Sebanyak 25 stan dari berbagai jenjang pendidikan menampilkan hasil penelitian, inovasi, hingga prestasi siswa. Ini penting, karena pendidikan yang sehat tidak cukup hanya membentuk tubuh dan mental yang baik, tetapi juga harus memberi ruang eksplorasi gagasan.
Pameran pendidikan seperti ini memiliki fungsi strategis sebagai ruang pertukaran inspirasi antar sekolah. Dalam banyak kasus, inovasi pendidikan justru berkembang bukan dari kebijakan besar, melainkan dari praktik-praktik kecil yang lahir di sekolah tertentu lalu menginspirasi sekolah lain. Ketika hasil karya siswa dipertemukan dalam satu ruang publik, muncul rasa percaya diri sekaligus dorongan kompetitif yang sehat.
Kehadiran sekolah rintisan hasil kerja sama dengan Bank Indonesia juga menunjukkan arah baru dunia pendidikan yang mulai membuka kolaborasi lintas sektor. Pendidikan hari ini memang tidak bisa berjalan sendirian. Dunia sekolah perlu terhubung dengan dunia industri, teknologi, ekonomi kreatif, dan transformasi digital agar siswa tidak tumbuh dalam ruang yang terisolasi dari realitas zaman.
Dalam konteks yang lebih luas, DEF 2026 memperlihatkan bagaimana Denpasar sedang mencoba membangun model pendidikan berbasis ekosistem. Ada unsur kesehatan, budaya, kreativitas, lingkungan, inovasi, dan kolaborasi yang dipadukan dalam satu festival. Pendekatan seperti ini terasa lebih relevan dibanding model pendidikan lama yang terlalu berpusat pada capaian angka.
Tentu saja festival semacam ini bukan solusi instan bagi seluruh persoalan pendidikan. Tantangan seperti kualitas pengajaran, kesenjangan fasilitas, literasi digital, hingga tekanan sosial pada anak-anak tetap membutuhkan kerja panjang. Namun DEF 2026 memberi sinyal penting bahwa pendidikan tidak boleh kehilangan sisi manusianya.
Di tengah dunia yang semakin cepat, kompetitif, dan digital, sekolah justru perlu menjadi tempat yang membuat anak-anak tetap sehat, kreatif, dan merasa terhubung dengan lingkungannya. Dan mungkin, di situlah makna paling penting dari tema “Edu-Green Menuju Sekolah Sehat.” [Bekraf/Rls]
