Sat. Nov 29th, 2025

Perspektif Baru soal AI & Blockchain dari Bali

Gedung Dharma Negara Alaya (DNA) kembali menjadi pusat diskusi teknologi ketika Australia Awards menggelar short course bertajuk “Enhancing Artificial Intelligence Development and Innovation – Policy and Practice.”

Acara berlangsung dari pukul 15.00 hingga 17.00 WITA, menghadirkan tiga pembicara utama berasal dari institusi yang telah berkontribusi membentuk ekosistem teknologi Indonesia: Bali Blockchain Center, E.ID, dan Baliola.

Executive Director Bali Blockchain Center (BBC), Ananda Priantara, membuka sesi dengan memaparkan topik “Building Bali’s AI and Blockchain Ecosystem: Innovation, Youth Empowerment, and Regional Collaboration.” Dalam paparannya, Ananda menekankan pentingnya regenerasi melalui program Bali Next Gen untuk membangun komunitas teknologi yang kuat di tingkat akar rumput. Ia juga menyoroti posisi BBC sebagai pusat penelitian dan inovasi blockchain pertama di Indonesia.

“Ekosistem itu dibangun, bukan muncul tiba-tiba. Bali memiliki momentum dan talenta muda yang siap menjadi fondasi,” ujar Ananda. Disampaikan bahwa bagaimana blockchain dapat menjadi fondasi kepercayaan digital dalam tata kelola AI, terutama di sektor publik dan industri kreatif IGP Rahman Desyanta, CEO Baliola.

Ia juga menjelaskan bahwa blockchain membantu pengaturan AI melalui tiga mekanisme utama. Pertama, melalui audit trail yang tidak dapat diubah, sehingga setiap keputusan atau output AI dapat dilacak sumbernya. Kedua, melalui transparansi model dan data, memungkinkan regulator mengetahui bagaimana AI menggunakan atau mengakses informasi. Dan, yang ketiga, melalui verifikasi identitas digital, memastikan bahwa hanya entitas sah yang dapat mengoperasikan, mengubah, atau mengakses sistem AI.

Dengan demikian, blockchain berfungsi sebagai lapisan kepercayaan yang membuat pengawasan dan akuntabilitas AI dapat dilakukan secara real-time.

Dalam diskusi panel, Gede Anta juga memperkenalkan Cyber Trust Maturity Framework (CTMF) sebagai lima pilar kepercayaan digital yang diperlukan dalam implementasi blockchain, yaitu cyber integrity, cyber awareness, cyber privacy, cyber resilience, serta cyber insight.

“DNA menjadi saksi awal perjalanan kami. BBC dan Baliola adalah laboratorium blockchain beyond crypto. Teknologi ini pada dasarnya mengangkat integritas dan martabat manusia,” tegasnya.

Identitas Digital dan Keamanan Siber
Chief Product Officer Baliola, Fransiskus Paranso, menjadi perwakilan dari E.ID, mengangkat tema “Digital Identity and Cybersecurity in the Age of AI: Local Innovations for National Resilience.”

Ia memaparkan inisiatif E.ID, sebuah sistem identitas digital berbasis selective disclosure yang memberi pemilik data kendali penuh atas data pribadi mereka.

Anso menekankan bahwa sejak dua tahun lalu, mereka menyadari bahwa Indonesia telah memiliki keunggulan yang tidak dimiliki negara lain, yaitu domain nasional .id, yang menjadi basis pembangunan E.ID.

“E.ID memastikan pengguna menentukan sendiri data apa yang dibagikan dan berapa lama. Setelah masa akses berakhir, pihak penerima tidak bisa lagi menyimpan datanya.”

Dalam sesi diskusi, peserta aktif menyoroti isu penyimpanan data, standar teknologi, hingga model bisnis blockchain. Para pembicara menegaskan bahwa sebenarnya data pribadi tidak pernah disimpan langsung di blockchain; yang tercatat hanyalah verifikasi, sementara para pengguna teknologi memiliki kendali penuh atas durasi akses data. Mereka juga menekankan bahwa kebocoran data pribadi memiliki implikasi hukum yang jelas.

Terkait standarisasi, dijelaskan bahwa penerapan blockchain umumnya berlandaskan empat standart utama, trust, trace, track, dan tokenize, yang menjadi fondasi interoperabilitas. Diskusi juga menyentuh persepsi bahwa blockchain adalah teknologi mewah atau sekadar tren, dan para panelis menegaskan bahwa model bisnis yang paling realistis dan berkelanjutan adalah lisensi pemanfaatan teknologi, bukan aset kripto. Di tingkat regional, dipaparkan bahwa Provinsi Jawa Barat tengah menyiapkan kebijakan untuk menghapus penggunaan KTP fisik dalam transaksi dan beralih ke Digital ID sebagai langkah awal transformasi identitas digital.[]

By Bekraf

Related Post