Oleh : Agung Bawantara
Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dalam beberapa tahun terakhir telah melesat jauh melebihi dugaan. Dari sekadar alat bantu sederhana, kini AI mampu membuat ilustrasi, komik, bahkan kartun dengan kecepatan dan biaya yang sangat murah. Cukup dengan menuliskan deskripsi singkat, sebuah gambar bisa muncul dalam hitungan detik—mirip dengan gaya karya kartunis profesional yang membutuhkan waktu, energi, dan pengalaman panjang untuk menghasilkannya.
Bagi para kartunis, ini adalah tantangan besar. Pasar komersial untuk ilustrasi standar mulai tergerus. Klien yang dahulu memesan karya personal atau editorial bisa saja beralih ke mesin. Namun, justru di tengah ancaman inilah, peran kartunis manusia menemukan makna yang lebih dalam—sesuatu yang tak mungkin dilakukan oleh algoritma.
Kartunis Tak Tergantikan
Kartun bukan sekadar gambar; ia adalah narasi sosial, kritik politik, humor getir, dan potret budaya. AI bisa meniru gaya, tapi ia tidak bisa membaca emosi publik, merasakan keresahan rakyat, atau menyelipkan sindiran cerdas yang lahir dari kepekaan nurani.
Kartunis adalah penerjemah realitas. Ia menangkap suara jalanan, kegelisahan pasar, ironi di parlemen, hingga dinamika budaya lokal, lalu mengolahnya menjadi gambar sederhana yang berbicara lebih lantang daripada ribuan kata.
Sebagai contoh, Indonesia hari ini sedang berada dalam pusaran isu ekonomi, politik, sosial, dan budaya yang hangat. Di sinilah kartunis memperlihatkan keunggulannya.
Misalnya, pada isu Kenaikan Tunjangan DPR, kartunis bisa menggambar anggota DPR duduk di kursi empuk berlapis uang, sementara rakyat di bawah kursi itu berusaha menahan beban dengan nasi bungkus kosong. Satire seperti ini langsung menusuk rasa keadilan publik—sesuatu yang AI hanya bisa gambar secara literal, tanpa humor getir khas Indonesia.
Lalu untuk peristiwa Presiden Melayat Korban Demo, kartunis bisa menghadirkan ironi: Presiden membawa bunga ke rumah sederhana seorang ojol yang wafat, sementara di belakangnya berjejer mobil mewah pejabat. Kontras moral-politik ini hanya bisa dibaca oleh sensitivitas manusia.
Sedangkan untuk isu Harga Beras Melambung, kartunis bisa menampilkan ibu-ibu menimbang beras di pasar, timbangan miring karena di sebelahnya diletakkan foto pejabat yang tersenyum lebar. Sindiran ringan tapi pedih, merefleksikan obrolan warung kopi yang nyata.
Contoh-contoh tersebut memperlihatkan keunggulan kartunis: kepekaan sosial, humor khas, keberanian moral, dan keterikatan dengan simbol lokal. Mesin tak bisa menandingi roh itu.
Tantangan HAKI
Meski keunggulan manusia jelas, ancaman tetap ada. Banyak model AI dilatih menggunakan karya kartunis tanpa izin. Gaya personal seorang kartunis bisa ditiru, bahkan diproduksi massal. Sengketa kepemilikan menjadi pelik: siapa pencipta sebenarnya? Apalagi jika pasar lebih tergoda pada produk cepat dan murah.
Di sinilah pentingnya perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Menurut UU Hak Cipta Indonesia, setiap karya yang diwujudkan otomatis dilindungi. Namun, bukti formal seperti sertifikat dari DJKI tetap diperlukan jika terjadi sengketa hukum.
Selain jalur legal formal, kini ada inovasi seperti Kraflab.id, platform berbasis blockchain yang lahir dari inisiatif kreatif di Indonesia. Dengan mencatat karya di blockchain, kartunis memperoleh: (1) Bukti permanen waktu dan identitas pencipta; (2) Perlindungan digital terhadap klaim palsu; (3) Nilai tambah komersial untuk lisensi, kolaborasi, atau distribusi global.
Perlindungan ini bukan berarti AI tidak bisa meniru gaya visual, tetapi memberikan senjata hukum dan reputasi bagi kartunis. Jika suatu hari karya digunakan tanpa izin, pencatatannya di blockchain bisa menjadi bukti kuat bahwa karya itu miliknya.
Jalan Ke Depan
Di era AI, kartunis tidak perlu menyerah. Justru ini saatnya menegaskan peran mereka sebagai: Suara nurani publik yang menyuarakan keresahan rakyat; Penjaga humor dan satire lokal yang tidak bisa diotomatisasi; Pemilik sah karya kreatif, dilindungi oleh hukum dan teknologi blockchain.
AI hanyalah kuas baru. Roh dari kartun tetap berasal dari manusia—dari keberanian, kepekaan, dan kemampuan melihat dunia dengan mata kritis. Selama kartunis mampu memadukan kepekaan sosial dengan perlindungan IP yang kokoh, profesi ini tidak akan punah. Sebaliknya, akan semakin dihargai karena keasliannya. []