Tue. Aug 26th, 2025

“Under the Moonlight” Tayang di DNA Denpasar

Film dokumenter Under the Moonlight karya sutradara Tonny Trimarsanto diputar di ruang audiovisual Gedung Dharma Negara Alaya (DNA) Lumintang, Denpasar, Kamis (21/8). Film yang telah meraih Best Documentary Feature di Festival Film Indonesia (FFI) 2024 ini menyorot kehidupan komunitas transgender di pesantren Al-Fatah Yogyakarta, pesantren unik yang dihuni santri transgender dewasa, di mana mereka dapat beribadah dan hidup dengan penuh penerimaan.

Dengan gaya observasional yang intim, Trimarsanto menghadirkan potret keseharian penuh warna—mulai dari memasak, berdoa, bernyanyi, hingga menghadapi ancaman kelompok intoleran—tanpa sedikit pun menghakimi. Keistimewaan film ini terletak pada keberhasilannya menampilkan wajah kemanusiaan yang hangat, di balik realitas diskriminasi yang keras. Under the Moonlight tidak hanya menjadi dokumen sosial, tetapi juga refleksi mendalam tentang hak asasi manusia, keberagaman, dan ketahanan komunitas termarginalkan di Indonesia.

Pemutaran ini diselenggarakan berkat kerja sama antara Rumah Dokumenter, Badan Kreatif (BKraf) Denpasar, Denpasar Documentary Film Festival (DDFF), dan Forum Komunikasi OSIS se-Kota Denpasar. Tahun ini, rangkaian program DDFF ditangani langsung oleh BKraf Denpasar sebagai bentuk penguatan ekosistem film dokumenter di Bali.

 

Persembahan untuk I Putu Yuliartha

Acara ini juga menjadi persembahan khusus bagi almarhum I Putu Yuliartha, tokoh penting dalam ekosistem kreatif dan literasi Bali yang baru saja berpulang. Kehadirannya selama ini telah memberi warna kuat bagi perkembangan ruang kreatif di Denpasar.

Sutradara Tonny Trimarsanto hadir langsung dalam pemutaran dan diskusi. Diskusi dipandu oleh Agung Bawantara, yang mengajak audiens menyelami proses kreatif film sekaligus membedah konteks sosial dan politik yang melatarbelakangi kisahnya. Antusiasme penonton terlihat jelas: banyak yang berebut kesempatan bertanya dan menyampaikan apresiasi kepada sang sutradara.

Besarnya minat masyarakat membuat kapasitas ruang audiovisual DNA tak mampu menampung penonton yang hadir. Kursi terisi penuh, sementara sebagian penonton rela berdiri agar tetap bisa menyaksikan film dokumenter yang telah melanglang festival internasional, termasuk IDFA 2023 di Amsterdam, Jakarta Film Week 2024, hingga Queer East Festival di London.

Selain memenangkan Best Documentary Feature FFI 2024, Under the Moonlight juga meraih penghargaan Best LGBT Film di Stockholm City Film Festival. Ulasan positif mengalir dari berbagai media internasional yang menyebut film ini sebagai karya menyentuh, sederhana, namun penuh daya hidup.[]

By Bekraf

Related Post