Tue. Aug 26th, 2025

Bappenas Apresiasi Denpasar Dorong Blockchain Jadi Pilar Ekonomi Kreatif

Arah kebijakan nasional di bidang ekonomi kreatif kini menekankan efisiensi sumber daya dan integrasi lintas sektor, khususnya dengan pariwisata. Dengan sumber daya yang terbatas, kreativitas perlu ditopang teknologi agar mampu menghadirkan dampak yang lebih luas, berkelanjutan, dan kompetitif di tingkat global.

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Republik Indonesia menegaskan arah kebijakan ini dalam kunjungan kerja dan diskusi strategis bersama Dinas Pariwisata Kota Denpasar, Badan Kreatif Kota Denpasar, UPTD Pusat Pelayanan Ekonomi Kreatif Kota Denpasar, serta Baliola di Gedung Dharma Negara Alaya, Senin (25/8).

Direktur Bappenas, Wahyu Wijayanto, yang diwakili oleh Imron dan Rizal, menekankan pentingnya penguatan ekosistem kreatif melalui efisiensi dan teknologi.

“Kami melihat ekosistem ekonomi kreatif perlu diperkuat dengan pendekatan efisiensi dan teknologi. Dengan memanfaatkan blockchain, kita tidak hanya melindungi karya kreator, tetapi juga membangun ekosistem yang lebih kokoh, transparan, dan siap bersaing di tingkat global,” ujar perwakilan Bappenas.

Dalam kesempatan itu, Bappenas juga menyampaikan apresiasi atas langkah-langkah yang dilakukan Kota Denpasar.

“Kami melihat Denpasar cukup progresif dalam mengembangkan ekosistem ekonomi kreatif. Kolaborasi lintas lembaga yang hadir hari ini patut diapresiasi karena menjadi contoh konkret bagaimana pemerintah daerah, komunitas, dan pelaku usaha bisa bergerak bersama,” tambahnya.

Diskusi turut menyoroti peran Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) sebagai mitra strategis dalam menghubungkan ekonomi kreatif dengan pariwisata. Salah satu fokus utama adalah mendorong pemanfaatan blockchain dalam sektor pemerintahan sebagai terobosan transparansi dan perlindungan hak cipta.

CEO Baliola, I Gede Putu Rahman Desyanta, melalui platform Kraflab.id, memperkenalkan solusi berbasis blockchain untuk memfasilitasi sertifikasi digital karya kreatif, mendukung pencatatan kepemilikan hak cipta, dan meningkatkan nilai tambah produk.

“Blockchain akan membantu pelaku industri kreatif menjaga orisinalitas karyanya sekaligus membuka peluang ekonomi baru. Dengan sistem ini, kepemilikan dan hak cipta bisa tercatat secara permanen, transparan, dan dapat diverifikasi,” terang Gede Anta.

Selain itu, forum ini juga menjadi ruang perkenalan Bekraf Academy, sebuah inisiatif peningkatan kapasitas pelaku kreatif, serta ajang untuk mengeksplorasi model kerja sama lintas lembaga. Diskusi lanjutan dengan Reza dari Kementerian Pengembangan Teknologi dijadwalkan untuk mempercepat pemanfaatan inovasi ini di tingkat nasional.

Dengan dukungan pemerintah pusat dan daerah, Bali diharapkan menjadi contoh nasional dalam integrasi kreativitas, teknologi, dan pariwisata.

Meneguhkan apa yang telah dipaparkan Gede Anta, Kepala Dinas Pariwisata Kota Denpasar, Ni Luh Putu Riyastiti mengatakan bahwa Bali memiliki keunggulan budaya dan pariwisata yang jika dipadukan dengan kekuatan teknologi dan perlindungan hak cipta, ekosistem kreatif di Bali bisa menjadi percontohan bagi daerah lain di Indonesia.

“Karena itu, sebagai pihak yang bertanggungjawab terhadap perkembangan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di Kota Denpasar, kami sangat mendukung segala inisiatif untuk memperkuat keunggulan potensi pariwisata di kota ini dengan inovasi-inovasi teknologi terkini,” ujarnya.

By Bekraf

Related Post